Tutup Indonesia Knowledge Forum V, Arief Yahya Beberkan Potensi Indonesia

Senin, 31 Oktober 2016 09:25 WIB
Tutup Indonesia Knowledge Forum V, Arief Yahya Beberkan Potensi Indonesia

Indonesia Knowlede Forum V (IKF V) yang sukses diselenggarakan oleh BCA Learning Services, selama dua hari, yaitu 6-7 Oktober 2016 lalu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, forum diskusi dan berbagi pengetahuan ini ditutup dengan sesi inspirasi.

Walikota Bandung Ridwan Kamil, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, hingga Menteri Komunikasi dan Informasi Rudiantara, pernah dihadirkan di tahun-tahun sebelumnya untuk mengisi sesi inspirasi tersebut. Tahun ini podium penutupan IKF V diisi oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Arief Yahya.

Pada sesi tersebut Arief Yahya mencoba memotivasi peserta untuk melihat Indonesia sebagai negara yang membanggakan karena dipenuhi dengan potensi. Terutama di bidang pariwisata yang diproyeksikan dapat menjadi sumber devisa utama Indonesia di masa yang akan datang.

Pariwisata dan ekonomi kreatif saat ini termasuk ke dalam urutan teratas sektor penyumbang devisa, berdampingan dengan pertambangan dan agrikultur. Namun, pariwisata menjadi sektor yang menunjukkan performa paling positif dengan kenaikan perolehan devisa 12 miliar dollar AS dari 11 miliar dollar AS.

“Saat ini pariwisata Indonesia memang masih setengahnya dari Malaysia dan seperempatnya Thailand. Tapi seperti berbisnis, kita jangan hanya melihat pariwisata Indonesia ini dari performanya saja tapi juga dari proyeksinya. Pariwisata Indonesia proyeksinya bagus,” ujar Arief Yahya.

Ia memprediksikan di tahun 2019 pariwisata dapat menjadi sektor yang menyumbakan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) terbanyak. Hal ini dikarenakan Indonesia sudah memiliki produk-produk pariwisata yang bagus, investasi yang diperlukan tidak terlalu besar, namun return yang lebih besar dapat diperoleh dengan cepat.

“Pariwisata berbeda dengan sektor pertambangan yang memerlukan investasi besar. Misalkan membuka satu blok, eksplorasinya mungkin baru bisa dilakukan delapan tahun lagi,” ujar Arief.

Jalan yang perlu diambil oleh pemerintah untuk memajukan pariwisata adalah mengemasnya dengan lebih menarik dan mempromosikannya dengan lebih masiv namun tepat sasaran. Menurutnya sesuai dengan formula pemasaran yaitu 4P (product, price, place, promotion), tiga P pertama telah terpenuhi, namun promosinya belum.

“Sebelumnya budget promosi pariwisata kita kecil, sementara negara lain budget promosi wisata bisa mencapai triliunan. Kita punya produk wisata bagus, lokasi kita strategis, harga juga bagus, yang kurang adalah promosi dan delivery channel-nya. Untung saja saat ini pariwisata sudah masuk ke dalam poin program Nawa Cita dan akan dijadikan sebagai salah satu core ekonomi kita,” jelas Arief Yahya lagi.

Agar efektif saat ini Kementerian Pariwisata Republik Indonesia tengah melakukan promosi besar-besaran secara digital. Mantan dirut PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom) tersebut mengatakan saat ini kebiasaan dan perilaku konsumen sudah berubah.

Saat ini konsumen kelas menengah ke atas yang merupakan sasaran utama industri pariwisata sudah sangat bergantung pada internet. Media konvensional tidak lagi efektif sebagai sarana promosi. Sementara untuk menjaring wisatawan mancanegara kebijakan bebas visa telah diberlakukan.

“Indonesia jika mau menjadi trade dan investment hub agak sulit bersaingnya dengan negara tetangga seperti Singapura. Tapi untuk menjadi hub pariwisata sangat memungkinkan. Kita harus incorporated atau kerja sama untuk tujuan baik ini,” tutup Arief Yahya.

Sesi inspirasi dari Menpar Arief Yahya mendapat sambutan antusias dari peserta. Terlihat dari penuhnya ballroom utama The Ritz-Carlton Pacific Place yang jadi tempat penyelenggaraan Indonesia Knowledge Forum V. Sesi inspirasi tersebut kemudian ditutup dengan penyerahan cenderamata dari Direktur BCA Armand W Hartono kepada Menpar Arief Yahya.

BCA Senantiasa di Sisi Anda
(Berita BCA)
BCA Terdaftar dan Diawasi Oleh OJK

Editor: Advertorial
MOST READ
© 2014 PT Bank Central Asia Tbk dan Tribunnews.com
Atas
// START Nielsen Online SiteCensus V6.0 // COPYRIGHT 2010 Nielsen Online ?>