Penerapan Good Corporate Governance di BCA

Rabu, 28 Desember 2016 08:54 WIB
Penerapan Good Corporate Governance di BCA

TRIBUNNEWS.COM - Tingginya transaksi yang dilakukan nasabah membuat BCA tak boleh main-main dalam menerapkan GCG.

 Jakarta, 22 Desember 2016

Jelang pergantian tahun, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) berhasil mendapatkan penghargaan sebagai instansi berpredikat sangat terpercaya karena memiliki tata kelola perusahaan yang baik atau Good Corporate Governance (GCG). Penghargaan ini diberikan dalam acara Indonesia Good Corporate Governance 2016: The Most Trusted Companies 2016.

Eduard Guntoro Purba, Kepala Divisi Risk Manajemen BCA, menuturkan penghargaan ini diraih BCA karena perusahaan ini mampu menerapkan GCG yang terintegrasi dengan Risk dan Compliance. Hal ini menjadi kunci bagi perseroan untuk memberikan dan meningkatkan kemampuan dalam melayani nasabah. Sebab, BCA merupakan bank yang dikenal luas sebagai The Biggest Transactional Banking, bahkan di tingkat ASEAN.

Tingginya transaksi yang dilakukan nasabah membuat BCA tak boleh main-main dalam menerapkan GCG. Maklum, setiap harinya, BCA melayani 12 juta transaksi, di mana 42 persen dari transaksi tersebut dilakukan melalui ATM, 37 persen lewat internet banking, 17 persen pakai mobile banking, dan sisanya hanya 4 persen melalui kantor cabang.

Menurut Edward, beberapa tahun belakangan, perkembangan internet banking dan mobile banking mengalami pertumbuhan yang signifikan. Hal ini sekaligus mengkonfirmasi bahwa teknologi akan menjadi tulang punggung atau backbone bagi transaksi perbankan.

Ia mengungkapkan terdapat empat tantangan besar yang dihadapi perseroan dalam menyediakan layanan transactional banking. Pertama, kompleksitas operasional. Eduard mencontohkan, BCA memiliki tantangan tersendiri dalam mengelola 17.000 mesin ATM yang dimilikinya. Asumsi saja, jika satu unit mesin ATM rata-rata diisi dengan saldo Rp 500 juta, maka harus ada pengelolaan uang lebih kurang Rp 8,5 triliun.

“Memerlukan suatu pengelolaan manajemen yang sangat baik mulai dari pemilihan vendor untuk pengelolaan uang, strategi penempatan lokasi ATM, dan juga teknologi ATM, untuk tetap dapat melayani kebutuhan masyarakat,” ucap Eduard.

Kedua, hal yang lebih kompleks lagi yang dihadapi BCA sebagai perbankan yang memiliki kekuatan dalam transactional banking adalah serangan kejatahan perbankan. Eduard menyebut, sedikitnya terdapat 80.000 serangan kejahatan perbankan. Artinya, setiap satu detik terjadi serangan terhadap transactional banking dalam bentuk spam, virus, dan sebagainya.

“Penyerangan kejahatan perbankan dilakukan oleh pihak-pihak yang mahir bahkan berasal dari luar negeri,” ungkap Eduard.

Ketiga adalah new financial technology atau fintech. Menyikapi hal ini, kata Eduard, Industri perbankan harus merangkul dan melakukan sinergi atas perkembangan teknologi finansial teranyar ini.

Keempat dan yang tidak kalah penting adalah pemenuhan terhadap regulasi industri perbankan yang semakin banyak. Tidak hanya berasal dari dalam negeri, regulasi industri perbankan juga dilakukan secara internasional. Perbankan pun harus merogoh biaya yang tidak murah guna memenuhi regulasi tersebut.

“Pada dasarnya BCA sepakat bahwa regulasi dilakukan untuk memberikan perlindungan terhadap nasabah dan juga melindungi bank secara berkesinambungan,” kata Eduard.

Oleh karena itu, untuk terus menerapkan GCG secara berkesinambungan, BCA mengembangkan Governance, Risk, and Compliance (GRC) Framework. Di mana, GRC Framework menyatu sebagai budaya kerja perseroan.

“Kuncinya adalah bagaimana GRC menjadi budaya dan bisa membangun iklim dan mainset individu yang mempromosikan trust, integritas dan accountability. GRC merupakan proses berkesinambungan yang menjadi budaya organisasi,” jelas Eduard.

Aspek-aspek tersebut, menjadikan BCA menjadi bank yang kuat dalam transactional banking. Menurut Eduard, keberadaan BCA sebagai The Biggest Transactional Banking, merupakan suatu pengejawantahan dari visi dan misi BCA.

Di mana, visi BCA adalah menjadi bank pilihan utama andalan masyarakat yang berperan sebagai pilar penting perekonomian Indonesia. “Tagline sebagai pilihan utama, bukan pilihan satu-satunya, menunjukkan BCA membuka diri terhadap kerjasama antar perbankan,” kata Eduard.

Untuk mewujudkan hal tersebut, terdapat tiga misi yang dirumuskan stakeholder perseroan. Pertama adalah membangun institusi yang unggul dibidang penyelesaian pembayaran dan solusi keuangan bagi nasabah bisnis dan perseorangan.

Kedua, memahami beragam kebutuhan nasabah dan memberikan layanan finansial yang tepat untuk tercapainya kepuasan optimal bagi nasabah. Dan terakhir, meningkatkan nilai franchise dan stakeholder BCA.

Sumber : Website BCA Prioritas

Editor: Advertorial
MOST READ
© 2014 PT Bank Central Asia Tbk dan Tribunnews.com
Atas
// START Nielsen Online SiteCensus V6.0 // COPYRIGHT 2010 Nielsen Online ?>