Jafrial Jasman, Sukses Setelah 'Gagal' Menjadi Dokter

Kamis, 29 Desember 2016 09:31 WIB
Jafrial Jasman, Sukses Setelah 'Gagal' Menjadi Dokter - jafrial-jasman-sukses-setelah-gagal-menjadi-dokter_20161229_093031.jpg
Jafrial Jasman, Sukses Setelah 'Gagal' Menjadi Dokter - jafrial-jasman-sukses-setelah-gagal-menjadi-dokter_20161229_093204.jpg

TRIBUNNEWS.COM - Berbisnis madu hitam telah membawa kesuksesan pada dirinya. Ia juga percaya bahwa kesuksesan yang diraih ini antara lain berkat kerja keras, hubungan baiknya dengan orang tua, isteri, dan tentunya peran dari Tuhan.

Jakarta, 12 Desember 2016

Jafrial Jasman adalah anak yang lahir dari keluarga yang bergerak di industri medis. Ayah Ijap, begitu ia biasa dipanggil, adalah seorang dokter ahli kebidanan, sedangkan sang Ibu merupakan kepala sebuah rumah sakit di daerah Bandung.

Namun, ia tak bisa melanjutkan 'tradisi' tersebut. Ia gagal masuk Fakultas Kedokteran. Padahal, ia dianugerahi kepintaran. Buktinya, ia selalu menjadi juara kelas sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Tak hanya itu, ia juga selalu sukses masuk fakultas kedokteran saat melakukan try out di sekolah. Ia juga memiliki TOEFL dengan skor 534. "Namun, saat ikut UMPTN saya gagal masuk kedokteran," ungkap dia.

IjapHebatnya, kegagalan Ijap mengikuti jejak sang ayah tidak membuat ayahnya kecewa. Sang ayah juga tidak pernah mempersoalkan kegagalan Ijap untuk menjadi dokter. Ayahnya percaya rezeki Ijap tidak akan pernah tertukar dengan orang lain.

Bahkan, sang ayah malah menenangkan hati Ijap. Orang tuanya berkata, "Jadi dokter itu memang bagus. Namun tidak pernah ada di suatu daerah yang menjadi orang paling kaya adalah dokter,". Omongan orang tua inilah yang membuat Ijap tak patah arang. Ijaptetap menjalani hidupnya dan belajar di STT Telkom.

Saat menjadi mahasiswa, Pria kelahiran Palembang ini aktif di kegiatan mahasiswa bernama koperasi dan pernah menjadi Direktur Baitul Mall Wat Tamwil (BMT). Ijap juga sering berbisnis. Salah satu bisnis yang dilakoninya adalah memproduksi kaos dan menjualnya. Namun, bisnis tersebut gagal total karena kaos produksinya tak laku di pasaran. Bahkan, penjual pun tetap tak kunjung datang saat kaos itu dijual tanpa untung, hanya untuk mengganti modal.

Walau gagal, Ijap tak putus asa. Ia mengalihkan bisnisnya dengan berjualan air minum kemasan, topi, dan lain sebagainya. Bisnis yang dilakoni Ijap  ini mulai menuai hasil. "Saat jualan kaos di kaki lima, saya lihat banyak orang haus dan membeli minum. Kok gampang banget jualan minuman, bisa langsung ada pembelinya," ungkap dia.

Madu Hitam

Kini, di usia 33 tahun Ijap sudah meraih sukses. Kesuksesan ini ia raih setelah berbisnis madu hitam dengan merek Madu Bima 99 bersama dengan dua rekannya, Eddy Yatman dan Dedi Satria. Usaha madu ini dirintis sejak tiga tahun lalu. Eddy Yatman bertugas sebagai direktur keuangan dan marketing, Dedi Satria sebagai direktur produksi, dan Ijap sendiri menjabat direktur utama.

Madu hitam dipilih mereka karena jenisnya yang unik. Menurut Ijap, produk yang diciptakan harus unik agar bisa melakukan penetrasi pasar. Sebuah produk harus unik agar bisa menjadi ciri khas sehingga masyarakat tertarik untuk mencoba.

"Sama seperti obat masuk angin, mereka memperkenalkan sakit masuk angin agar bisa melakukan penetrasi. Padahal, di luar negeri tidak ada istilah sakit masuk angin, yang ada adalah flu dan demam. Namun, jika menjual obat flu dan demam mereka bisa kalah bersaing dengan obat yang telah ada," papar dia.

Sementara, usaha madu dipilih Ijap bersama rekannya karena madu merupakan obat dari segala penyakit. Tak hanya itu, seluruh kitab suci di dunia ini juga menyebutkan madu sebagai obat. Dengan begitu, madu akan diterima oleh berbagai kalangan.

Karena madu masuk dalam kategori medis, Ijap lebih memilih madu hitam berkualitas super. Ia percaya masyarakat akan lebih memilih produk yang berkualitas saat berbicara tentang kesehatan. Namun, masyarakat akan memilih harga yang murah saat berbicara soal makanan.

Madu hitam yang diproduksi Ijap ini berasal dari Kalimantan. "Madu hitam itu berasal dari dua daerah, Bangka Belitung dan Kalimantan. Saya memilih yang Kalimantan," ungkap dia. Sementara, nama Bima dipilih karena memiliki banyak konotasi seperti kuat, pewayangan, daerah di Indonesia, dan lain-lain.

Untuk menjaga produksi madunya, Ayah tiga anak ini bekerjasama dengan para petani di Kalimantan. "Untuk menjaga kualitas, awalnya saya terjun langsung. Karena madu itu memiliki tingkatan. Ada yang super, namun ada juga yang encer. Selain itu, madu juga memiliki rasa yang berbeda tergantung dari cuaca," kata Ijap.

Ijap memilih memasarkan produk madunya di seluruh apotek di Indonesia. Ijapjuga memasang iklan di 80 koran baik nasional hingga lokal. Ia juga beriklan di puluhan radio di Indonesia agar produknya semakin dikenal. Bahkan, ia berani memberikan garansi uang kembali jika madunya tidak mendatangkan khasiat kepada konsumennya.

"Saya memberikan garansi khasiat bukan kesembuhan. Dari sekian juta botol madu yang saya jual, hanya dua yang kembali ke saya meminta dikembalikan uangnya," papar Ijap.

Kesuksesan Ijap dalam berjualan tentunya juga tak selalu mulus. Saat ini, Ijap sedang memperkarakan pemalsuan produk madunya. Namun, ia berharap hal ini tak akan terulang. 

Menurut Ijap yang memiliki hobi jalan-jalan, saat ini juga banyak petani yang mengemas sendiri produk madunya. Namun, hal itu tidak membuatnya khawatir. Ia percaya bahwa persaingan harus diciptakan agar ia bisa terus berinovasi dan memenangkan pasar.

IjapIa pun ingin karyawannya menjadi pengusaha dan sukses seperti dirinya. “Yang saya butuhkan hanya sahabat setia agar nantinya bisa ketemu di tempat service mobil BMW dengan membawa mobil masing-masing saat saya juga memperbaiki mobil saya,” kata dia.

Hampir Bangkrut

Sebelum berbisnis madu, Ijap memilih bisnis memproduksi minuman bubuk jahe merah dengan nama Cappujae 99. Namun, bisnis ini hampir membuatnya bangkrut. Ia kalah bersaing dengan produsen skala besar.

Pasalnya, Ijap memilih jahe asli untuk produknya sehingga harganya bisa lebih mahal. Sementara, produsen skala besar bisa menjual produknya lebih murah. Alhasil, uang hasil penjualan produknya lebih banyak keluar untuk membayar kontrak iklan yang dilakukan dengan surat kabar.

Ijap mengaku kesuksesannya ini juga diraih karena peran Tuhan. "Saat saya hampir bangkrut dan saya mencari bisnis lain yang akan dijalani, saya sholat istikharah. Karena kalau bisnis tidak punya modal maka harus berdoa," ungkap dia.

Kesuksesan Ijap ini telah ia tuangkan dalam dua bukunya, 99 Detik Jadi Pengusaha dan Sepasang Bidadari. Kini, Ijap juga aktif dalam mengisi training-training wirausaha untuk menebarkan gerakan enterpreneur.

"Kesuksesan itu juga sangat tergantung dari hubungan kita dengan isteri dan orang tua, termasuk mertua. Bersihkan hati dan jangan pernah dendam, serta tak lupa untuk berbagi," papar dia.

Lewat pengalaman hidupnya ini Ijap memberi pelajaran buat kita semua. Menurut dia, hidup adalah pilihan, pilihan membutuhkan keputusan, keputusan memerlukan keberanian. Yang namanya berani bukan berarti tidak punya rasa takut. Namun tetap maju dengan rasa takut yang kita miliki. Bukan karena segalanya sulit maka kita tidak berani, namun karena kita  tidak berani maka semua tampak sulit.

Kerja keras Ijap juga telah mengantarkannya menjadi nasabah BCA. "Saya kenal BCA sudah sejak kecil. Dulu waktu kecil saya pernah dapet tas warna putih dari BCA saat buka rekening. Saya telah menikmati beragam layanan BCA mulai dari KlikBCA Bisnis, kartu kredit, serta layanan lainnya," ucap Ijap.

Sumber : Website BCA Prioritas

Editor: Advertorial
MOST READ
© 2014 PT Bank Central Asia Tbk dan Tribunnews.com
Atas
// START Nielsen Online SiteCensus V6.0 // COPYRIGHT 2010 Nielsen Online ?>