Profesor Sri Edi Swasono Kritisi Neoliberal

Sampai saat ini Indonesia menyerahkan sebagian besar permasalahan ekonominya kepada mekanisme pasar, seperti lazimnya negara yang menerapkan sistem pasar bebas.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Sampai saat ini Indonesia menyerahkan sebagian besar permasalahan ekonominya kepada mekanisme pasar, seperti lazimnya negara yang menerapkan sistem pasar bebas.

Tetapi menurut Prof. Dr. Sri Edi Swasono, hal tersebut bukanlah kebijakan yang tepat untuk diterapkan.  Profesor Edi menjelaskan panjang lebar dalam buku "Indonesia dan Doktrin Kesejahteraan Sosial,", Dari Klasikal dan Neoklasikal ke the End of Laissez Faire" yang dibedah di gedung Bappenas, Jumat, (26/03/2010) .

Ia mencontohkan pentingnya intervensi tersebut dengan kasus kelaparan yang melanda Gujarat pada tahun 1882. Otoritas setempat menghalangi bantuan, karena mereka percaya bawa pasar dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri.

Alhasil ribuan orang meninggal. "Akhirnya mekanisme pasar dapat mengentaskan rakyat miskin, lha wong mati semua" tutur Sri Edi yang mengundang gelak tawa peserta bedah buku.

Di dalam buku tersebut ditunjukkan bahwa kesejahteraan sosial adalah idealisme yang diakui oleh Indonesia sebagai kewajiban “melindungi segenap bangsa Indonesia” dan untuk memenuhi hak warga negaranya, sebagaimana tertera UUD 1945.

Profesor Edi menerangkan dengan rinci bahwa, penyebab tidak terpenuhinya hak warga negara adalah karena terjadinya pergeseran paham kesejahteraan ke negara, yang lebih mementingkan lancarnya mekanisme pasar.

Hal yang penting dalam buku ini adalah adanya penjelasan teoritis yang cukup detil mengenai berbagai konsep kesejahteraan sosial. Penjelasan ini sangat berguna bagi pembaca untuk memahami secara lebih mendasar filosofi kesejahteraan sosial serta perkembangan pemikiran.

Buku tersebut ditulis dengan keprihatinan tentang makin tersisihnya kesejahteraan sosial karena sistem ekonomi neoliberalisme dibiarkan berkecamuk di Indonesia.

"Pembangunan telah terbukti menggusur rakyat miskin dan bukan menggusur kemiskinan , daulat pasar telah menggusur daulat rakyat. Terjadi sekedar pembangunan di Indonesia, dan bukan pembangunan Indonesia, sehingga bangsa Indonesia hanya menjadi jongos globalisasi," papar profesor ekonomi tersebut.

Prof. Dr. Sri-Edi Swasono adalah Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, dan merupakan mantan anggota MPR-RI, Pimpinan Gerakan Reformasi Nasional (GRN) dan Ketua Umum SOKSI-Reformasi. Ia lahir di Ngawi, Jawa Timur, pada tanggal 16 September 1940. (*)

Penulis: Nurmulia Rekso Purnomo
Editor: Iswidodo
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved