DPR Sepakat Harga Minyak antara 75-95 dollar AS Per Barel

Komisi VII DPR RI menerima usulan Pemerintah terkait harga patokan minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Andri Malau

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) komisi VII menerima usulan Pemerintah terkait harga patokan minyak Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) tahun 2012 antara 75 dollar AS hingga 95 dollar AS Per Barel.

Adapun kisaran target produksi siap jual atau lifting migas antara 950-970 barel per hari. Kementerian ESDM merilis kesepakatan ini hasil dari Rapat Kerja membahas penetapan asumsi dasar untuk volume BBM bersubsidi, subsidi BBN dan LPG, lifting minyak dan subsidi listrik, yang dilakukan, Selasa (7/6/2011).

Hadir mewakili Pemerintah, Menteri ESDM Darwin Saleh, Dirjen Migas Evita H. Legowo, Dirjen Kelistrikan, Jarman serta Dirjen Minerba, Thamrin Sihite.

Berkenaan dengan asumsi ICP tahun 2012, Menteri menerangkan, dapat dijelaskan proyeksi harga minyak tahun 2012 Masih sulit diduga. Ini terkait dengan ketidakpastian faktor Geopolitik, terutama di Afrika Utara dan Timur Tengah.

Menurutnya, berdasarkan pooling diprediksikan harga minyak WTI berkisar antara 60–180 dollar AS per barel (berdasarkan pooling Reuters dan US-DOE). Sementara, harga minyak Brent berkisar antara 75–138,5 dollar AS per barel (berdasarkan pooling Reuters) dan harga minyak Basket OPEC berkisar antara 75–90 dollar AS per barel.

Sementara itu, para analis berpendapat tingginya harga minyak dunia akan menahan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, OPEC juga berkomitmen untuk meningkatkan produksi agar dapat menahan laju kenaikan harga minyakdunia.

"Berkenaan dengan hal-hal tersebut, maka kami mengusulkan asumsi ICP tahun 2012 pada kisaran 75 – 95 dollar AS per barel,”ujar Menteri ESDM.

Sedangkan untuk besaran lifting minyak bumi yang diusulkan Pemerintah yaitu antara 950-90 barel per hari.

Perkiraan produksi minyak bumi dilakukan antara lain dengan mempertimbangkan kondisi lapangan-lapangan migas yang ada saat ini dan perkiraan potensi tambahan produksi dari lapangan baru.

Optimalisasi produksi minyak dilakukan dengan upaya-upaya, antara lain: Mendorong upaya optimasi produksi pada lapangan eksisting termasuk penerapan Enhanced Oil Recovery (EOR) dengan meningkatkan koordinasi rutin dengan BPMIGAS dan KKKS.

Selain itu, dari sisi regulasi Pemerintah akan menerbitkan Peraturan Menteri ESDM No. 6 Tahun 2010 tentang Pedoman Kebijakan Peningkatan Produksi Migas, Membentuk Tim Pengawasan Peningkatan Produksi Migas (TP3M), dan Membentuk Tim Monitoring Fasilitas Produksi dalam rangka untuk mengurangi unplanned shutdown serta meningkatkan efisiensi operasi, dan optimalisasi fasilitas produksi melalui inspeksi rutin.

Terkait dengan penambahan tingkat produksi, Dirjen Migas menyatakan, penambahan produksi akan diupayakan dari beberapa lokasi produksi antara lain dari Blok Cepu dan West Madura Offshore.

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Yudie Thirzano
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help