Jumat, 19 Desember 2014
Tribunnews.com

Ribuan Rumah di Bawah Tipe 36 Terbengkalai di Bandung

Rabu, 29 Februari 2012 03:47 WIB

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG - Belum lama ini pemerintah memberlakukan peraturan baru mengenai skema pembayaran dan pemberian subsidi perumahan, yaitu Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Dalam FLPP itu ada aturan, rumah bagi kalangan masyarakat berpenghasilan rendah minimal tipe-36.

Padahal, sebelum pemerintah memberlakukan peraturan itu, masih banyak rumah tipe tipe 21, 27, 29, dan 31, yang belum terjual.

"Di Jabar, jumlah rumah yang ukurannya di bawah 36 tetapi belum terjual mencapai ribuan unit. Perkiraannya, sekitar 4 ribu-5 ribu unit," kata Ketua DPD Real Estat Indonesia (REI) Jabar, Yana Mulyana Supardjo, di Jalan Martadinata, Bandung, Selasa (28/2).

Yana mengatakan, sekitar 50 persen rumah berukuran di bawah tipe 36 itu sudah masuk dalam kesepakatan kredit dengan perbankan. Tapi adanya peraturan FLPP, yang mengharuskan penjualan rumah murah berukuran minimal 36, membuat rumah-rumah berukuran di bawah tipe 36 itu terbengkalai. "Hal ini karena perbankan tidak dapat menyalurkan kredit akibat terganjal peraturan tersebut," kata Yana.

Agar penjualan ribuan rumah yang terbengkalai tersebut dapat terealisasi, Kadin mencoba membahasnya dengan pemerintah, Tapi, sampai kini, belum ada jawaban dari pemerintah.

Menurut Yana, ribuan rumah tersebut tersebar di 15 kabupaten dan kota di Jabar, antara lain Kabupaten Bandung, Kabupaten Karawang, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Subang. "Yang terbanyak di Kabupaten Bandung, sekitar 30 persen," kata Yana.

Tersendatnya penjualan rumah itu merugikan tidak hanya pengembang, tapi juga konsumen dan perbankan. Secara nilai penjualan ribuan rumah yang terbengkalai itu sekitar Rp 3,5 triliun. Kondisi tersebut sangat berpotensi membuat backlog (kekurangan jumlah rumah) di Jabar bertambah. Apalagi, dalam dua bulan terakhir, penjualan rumah murah kondisinya stagnan.

"Selain itu, rencana kenaikan harga bahan bakar minyak dan tarif dasar listrik pun dapat berpengaruh. Artinya, saat BBM dan TDL naik, penjualan rumah pun berpotensi lesu sekitar 1-2 bulan," katanya.
Saat ini, kata Yana, kekurangan jumlah rumah di Jabar sekitar 1,8 juta unit, sedangkan secara nasional backlog perumahan sekitar 13,6 juta unit. Meski demikian, REI optimistis target penjualan perumahan di Jabar tercapai. "Secara nasional, tahun ini DPP REI menargetkan penjualan sekitar 200 ribu unit. Target Jabar sekitar 80 ribu unit," ujarnya.

Berkaitan dengan rencana kenaikan harga BBM dan TDL, Yana menyatakan, harga jual perumahan, khususnya bagi kalangan berpenghasilan rendah, tidak terpengaruh karena pemerintah sudah menetapkan harga jualnya senilai Rp 70 juta. Lain halnya dengan penjualan rumah yang bersifat free market yang diperkirakan naik sekitar 10 persen. Itu terjadi karena kenaikan harga jual bahan baku bangunan. Pada 17-25 Maret 2012 ini , REI rencananya juga menggelar Property & Furniture Expo di Graha Manggala Siliwangi untuk meningkatkan penjualan perumahan. (win)

Editor: Prawira Maulana
Sumber: Tribun Jabar

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas