Sabtu, 29 November 2014
Tribunnews.com

Elsa Sukses Memupuk Bisnis Pupuk di Dunia Maya

Rabu, 16 Mei 2012 18:33 WIB

Elsa Sukses Memupuk Bisnis Pupuk di Dunia Maya
Kontan
Elsa Rosyidah

Laporan Wartawan Kontan, Fransiska Firlana

TRIBUNNEWS.COM - Ketidaksengajaan bisa menjadi awal sukses seseorang. Inilah yang dialami oleh Elsa Rosyidah, pemilik toko online bertajuk tokopupuk.net. Niat baiknya untuk menolong teman, ternyata, justru membuatnya menjadi seorang wirausahawan.

Bisnis online memang bukan hal baru. Praktik berjualan produk hingga jasa lewat dunia maya itu sudah jamak dilakukan banyak orang. Begitu pula berjualan pupuk secara online. Meski banyak yang telah melakukannya, tapi sedikit yang fokus dan serius menggarap lahan ini.

Salah satu orang yang sukses berbisnis pupuk secara online adalah Elsa Rosyidah. Lewat tokopupuk.net, ia sukses memasarkan pupuk secara luas dan menjangkau beberapa kota di Indonesia. Elsa sendiri melihat, saat ini ada cukup banyak penjual pupuk di dunia maya. “Tapi, tidak semua dilakukan secara serius. Maksudnya, toko pupuk online tersebut tidak dikelola sedemikian rupa sehingga mendatangkan pembeli,” kata perempuan kelahiran Jawa Tengah, 25 Juni 1985 ini.

Meski berawal dari keisengan, permintaan pasar yang semakin membesar mendorong Elsa lebih serius menggeluti pupuk online-nya. Apalagi, ia menyaksikan sendiri, banyak petani yang kesulitan memperoleh pupuk karena produk ini hilang atau tidak tersedia di pasar.

Pangkal persoalannya adalah pemasaran yang tersendat dan rantai distribusi yang terlalu panjang. “Jalur distribusi dari pabrik pupuk hingga petani terlalu panjang. Tapi, dengan toko online ini, jalur distribusi itu bisa diperpendek,” ujar Elsa. Melalui toko online, petani bisa langsung membeli dari pabrik dan distribusi pupuk ini bisa diakses di pelosok negeri.

Sejak tahun 2009 hingga 2011, toko pupuk online Elsa sudah menjual 1,2 juta kilogram (kg) pupuk atau setara 1.200 ton. Jangkauan wilayahnya sampai Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Pupuk yang ia jual antara lain NPK Niphoska, pupuk SP 36 Ladang Subur, pupuk NPK Mitrophoska, dan pupuk NPK Daun Dunia.

Sejatinya, Elsa tak mempunyai cita-cita menjadi pengusaha pupuk. Sebab, awalnya, dia tidak memahami seluk-beluk pupuk, termasuk aspek bisnisnya. “Saya kenal pupuk, ya, sejak mulai menjualnya. Sebelumnya, saya tidak tahu seluk-beluk pupuk,” kata istri Agung Purnomo ini.

Elsa bercerita, bisnis ini bermula dari ketidaksengajaan. Semua berawal pada 2009, saat ia masih kuliah semester lima di jurusan teknik pertanian Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. “Awalnya, saya cuma membantu teman yang memiliki perusahaan pupuk di Pasuruan, Jawa Timur,” katanya.

Beberapa kali, teman Elsa yang menjadi pemilik CV Dewi Sri Rama, produsen pupuk nonsubsidi, ditipu oleh agen pemasaran. Pupuk laris terserap pasar, tetapi pembayaran macet. Modusnya, agen pemasar tidak memenuhi komitmen pembayaran penuh dan hanya mau membayar 25%.

Elsa menyatakan niatnya untuk membantu temannya. “Saya tidak punya modal kalau harus buka toko offline dan tidak punya waktu untuk muter-muter mencari pembeli,” kenangnya. Akhirnya, dengan uang Rp 3.000, Elsa pergi ke warung internet dan membuat blog yang dijadikannya toko online untuk menawarkan pupuk produksi CV Dewi Sri Rama itu.

Tak disangka, hanya dalam waktu 10 hari, respons pembeli pupuk melalui blog Elsa cukup banyak. Dalam kurun waktu itu saja, ia sudah melakukan transaksi pupuk sebanyak delapan ton. “Sejak saat itu, saya memilih fokus menggarap bisnis ini. Saya membangun website dengan memakai domain berbayar,” katanya.

Elsa juga mulai belajar tentang seluk-beluk pupuk kepada temannya yang memiliki pabrik pupuk itu. Selain itu, dia juga belajar mengenai manajemen bisnis pupuk. Hubungannya dengan pabrik pupuk tersebut bukan sekadar sebagai pemasar lagi, ia sudah banyak terlibat dalam proses bisnis perusahaan pupuk itu.

Lengah dan tertipu

Karena masih minim pengalaman dalam berbisnis dan terlalu antusias melayani pembeli, Elsa sempat merugi. Anak pertama dari dua bersaudara ini pernah kena tipu pembelinya. “Sebab, ada miskomunikasi antara saya dengan pabrik pupuk. Pupuk sudah dikirim ke pemesan di Medan meski belum ada pembayaran,” kenang Elsa yang sekarang tengah melanjutkan studi di Program Studi Magister Ilmu Lingkungan di Universitas Padjadjaran, Bandung ini. Kala itu, Elsa kena tipu sebanyak tiga kontainer pupuk seharga Rp 160 juta.

Kasus itu tidak menciutkan Elsa untuk terus menggeluti usaha penjualan pupuk secara online. “Kehilangan Rp 160 juta, kami anggap sebagai ongkos belajar bisnis,” ujar perempuan berkerudung ini. Elsa justru semakin tekun berbisnis. Hasilnya, ia bukan hanya membukukan penjualan yang kian meningkat, inovasi bisnis pupuk dengan berbasis online ini juga merebut banyak penghargaan. Salah satunya, dia masuk daftar 10.000 women entrepreneur Global Cohort dari Pemerintah Amerika Serikat Maret lalu.

Kini, Elsa mengaku sedang menyiapkan proyek bisnis online lain. “Tak boleh puas hanya pada satu bidang, harus ada pengembangan,” tuturnya.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Kontan

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas