Kamis, 18 Desember 2014
Tribunnews.com

Nilai Tukar Rupiah Menurun

Rabu, 30 Mei 2012 18:34 WIB

Nilai Tukar Rupiah Menurun
ist
Ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Pontianak, Steven Greatness

TRIBUNNEWS.COM PONTIANAK - Penurunan kurs rupiah terhadap dolar AS hingga di posisi 9.600 selama tiga pekan terakhir dinilai pengusaha akan berdampak pada harga barang di semua sektor yang akhirnya memberatkan konsumen.

Sekretaris Apindo Kalbar, Evo Evelina Maria, mengatakan melemahnya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS bukan hanya memberatkan importir tapi juga berdampak kepada eksportir.
Penguatan nilai dolar AS atas rupiah dapat mempengaruhi pengusaha asing menghentikan sementara pengiriman produk dari Indonesia khususnya dari Kalbar. Dengan demikian, otomatis stok barang menumpuk akhirnya justru harga jual menurun yang dapat berdampak pada perekonomian Kalbar.

"Nilai tukar rupiah terhadap dolar semakin melemah artinya berat untuk semua sektor. Ekspor akan menurun demikian juga impor yang akhirnya mengganggu perekonomian Kalbar," ujarnya kepada Tribun, Rabu (30/5).

Menurut Evo, melemahnya nilai rupiah tidak ada sektor yang diuntungkan kecuali masyarakat atau pengusaha yang menyimpan dolarnya dalam bentuk tabungan. Penurunan yang sudah berlangsung selama tiga pekan ini, membuktikan pemerintah terkesan lamban mengambil satu kebijakan.

Akibatnya tentu berdampak pada harga kebutuhan, akhirnya yang paling merasakan dampaknya adalah konsumen. Pemerintah seharusnya bisa menjaga agar nilai rupiah tetap berada di posisi yang ideal yaitu berada di posisi 9.500, harapnya.

Ketua Importir Makanan Ringan Pontianak, Andi Anafiah, menilai melemahnya kurs rupiah akan mengakibatkan produsen atau importir membayar dengan harga yang lebih tinggi sehingga barang yang dijualkan kembali kepada konsumen harganya menjadi semakin mahal.

Dampaknya bukan hanya berpengaruh pada barang importir saja tapi semua barang akan terkena imbasnya, termasuk nilai tukar rupiah terhadap mata uang lainnya yang bukan dolar AS.

"Menurut saya sektor yang diuntungkan hampir tidak ada, yang sangat merasakan dampaknya adalah konsumen atau masyarakat kecil. Karena harga 9 bahan pokok akan ikut naik harganya," ujarnya.

Pemerintah diharapkan mampu menekan nilai tukar dolar atas rupiah agar tidak memberikan dampak negatif pada pengusaha lokal. Di antaranya dengan aturan yang dikeluarkan tidak memberatkan dan merugikan para pengusaha seperti saat ini, sebab pengusaha juga memberikan konstribusi untuk negara melalui pembayaran pajak.

Sebaliknya Pengusaha Sawit Kalbar, Toni Hartono, mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar akan menguntungkan para petani sawit sehingga dapat meningkatkan taraf hidup perekonomian mereka.

Ia menambahkan, 60 persen CPO Kalbar adalah untuk ekspor, dan 20 persen di antaranya milik petani plasma. Dengan begitu menguatnya dolar AS maka harga Tanda Buah Segar (TBS) juga ikut naik karena memang sesuai dengan harga pasar internasional akibatnya kesejahteraan petani dapat meningkat.

Toni menilai penguatan nilai dolar atas rupiah merupakan hal yang positif dan tidak akan berpengaruh pada perekonomi Indonesia. Asalkan pemerintah betul-betul menciptakan jaminan keamanan usaha dan adanya kepastian hukum kepada pengusaha menjalankan usahanya.

"Melemahnya nilai rupiah hingga 9.600 belum mengkhawatirkan perekonomian karena sifatnya temporer dan berfluktuasi. Ini hanya permainan atau profil talking. Karena fundamental ekonomi kita sudah cukup stabil," ujarnya. (sgt)

Editor: Budi Prasetyo

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas