Senin, 22 Desember 2014
Tribunnews.com

Petani Karet Jambi Kaget Harga Anjlok jadi Rp 8.000

Senin, 9 Juli 2012 07:57 WIB

Petani Karet Jambi Kaget Harga Anjlok jadi Rp 8.000
Kompas/RADITYA MAHENDRA YASA

TRIBUNNEWS.COM, MUARA BUNGO - Petani karet di Kabupaten Bungo mulai khawatir menyusul harga jual komiditi karet yang terus turun. Di tingkat desa harga karet anjlok sampai Rp 8.000 per kilogram.

 Saat ini harga jual karet terus turun dari hari ke hari. Di pasar lelang, harga karet hanya dibandrol Rp 12 ribu/kg. Sedangkan di desa- desa, bahkan petani ada yang jual ke tengkulak dengan harga jual Rp 8.000/kg. Ini merupakan harga terendah,” kata Kasi perdagangan Diskoperindag Bungo Sumedi, kepada Tribun, Minggu (8/7/2012).

Menurut Sumedi, harga karet awalnya Rp 16.500 per kilogram kemudian turun secara perlahan jadi Rp 12.500 per kilogram dan akhir pekan ini anjlok sampai ke harga Rp 12.000 per kilogram.

Diakui Sumedi, penyebab turunnya harga komoditi karet di pasaran sangat tergantung dari permintaan dunia. Harga karet di Bungo sempat menjangkau harga tertinggi Rp 22 ribu per kilogram.

Kondisi ini, benar-benar membuat para petani menjerit. Petani karet di Kabupaten Bungo mengeluhkan anjloknya harga karet. Petani mengaku sudah merasakan anjloknya harga karet sejak dua pekan terakhir.
Junaidi petani karet dari Kecamatan Tanah Sepenggal mengaku, sempat kaget saat karet yang hendak dijualnya hanya dihargai Rp 8.000/kg.  Kalau sudah begini bagaimana petani bisa memenuhi kebutuhan pokok,” katanya.

Senada petani lainnya, Imam berharap agar harga karet kembali normal sampai pada harga Rp 16 ribu per kilogram.

Para petani khawatir jika harga terus anjlok, mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup khususnya kebutuhan pokok.  "Saat ini sudah tahun ajaran baru perlu uang untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak dan sebentar lagi memasuki bulan Ramadan,” keluh petani.

Harga karet di tingkat petani di Bungo sepertinya masih dikuasai oleh tengkulak. Kebanyakan mereka masih menerima harga getah karet di bawah harga pasar.

”Petani karet masih banyak yang menjual getahnya kepada tengkulak. Padahal mereka sesungguhnya bisa menjual getah karetnya di pasar lelang dengan harga yang lebih tinggi,” kata Sumedi, Kasi Perdagangan Diskoperindag Bungo.

Secara umum sebutnya, perilaku tersebut menyebabkan kerugian bagi para petani itu sendiri yakni dari sisi harga dan dari sisi timbangan. Harga yang dibayarkan tengkulak, lebih rendah dari harga pasar lelang. "Secara otomatis pendapatan yang diterima petani jadi lebih kecil,” katanya kepada Tribun.

Baca juga:

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jambi

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas