• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribunnews.com

Surplus Gabah, Tapi Pemerintah Malah Impor Beras

Sabtu, 21 Juli 2012 23:13 WIB
Surplus Gabah, Tapi Pemerintah Malah Impor Beras
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Ilustrasi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Rencana pemerintah melakukan importasi beras dalam waktu dekat, menjadi bukti ketidakberpihakan terhadap komoditas pangan lokal. Hal ini ironis, di saat produksi beras surplus dan serapan Badan urusan logistik (Bulog) optimal.

Kebijakan ini menunjukan bahwa Pemerintah tidak memiliki itikad baik dalam mendukung swasembada beras berkelanjutan hingga tahun 2014.

Anggota DPR RI Komisi IV Ma’mur Hasanuddin menyesalkan langkah yang dilakukan oleh Pemerintah tersebut. “Di saat Kementerian Pertanian berjibaku untuk meningkatkan produksi dan bulog berusaha melakukan serapan gabah petani dengan optimal, Kementerian Perdagangan malah tidak menunjukan keberpihakan dengan berencana melakukan importasi beras,” tegas Ma'mur dalam rilis yang diterima Tribunnews.com, Sabtu (21/7/2012).

Pengadaan beras tahun 2012, hingga bulan Juli mencapai angka 2,5 juta ton dan ditargetkan hingga akhir tahun mencapai target 3 juta ton. Tahun lalu, pengadaan beras hanya mencapai 1,8 juta ton.

Menteri Koordinasi Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan (19/7/2012) Pemerintah masih membuka keran impor beras untuk memenuhi cadangan beras nasional dan menjaga ketersediaan beras di masyarakat, jatah impor beras adalah sekitar 1 juta ton untuk tahun ini.

Ma’mur yang juga legislator dari Jawa Barat, yang tak lain kawasan salah satu sentra beras nasional ini menegaskan, “Pemerintah sering sekali tidak peka dalam mamahami kondisi yang berkembang, seharusnya disaat produksi dan serapan bagus seperti sekarang ini seharusnya memberikan penguatan serta proteksi yang maksimal terhadap beras nasional. Namun dengan wacana impor yang dilemparkan secaranya nyata akan meruntuhkan semangat dan perjuangan rekan-rekan petani,”

Menurutnya, Kementerian Koordinator Ekonomi seharusnya mampu menangkap dengan baik situasi dan kondisi seperti ini. Dan bukan malah memberikan wacana ketidakpastian dengan adanya importasi beras. Selain itu Menko Perekonomian mampu mengkoordinasikan dengan baik data serta capaian yang telah dilakukan selama ini oleh Kementerian pertanian, Kementerian perdagangan maupun bulog sebagai stabilisator.

Diprediksi produksi beras nasional selama 2012 naik 4,3 persen. Berdasarkan survei BPS akan terjadi surplus sebesar 5 juta ton. Bulog sampai hari ini sudah mampu menyediakan beras sebanyak 2,5 juta ton. Artinya 50 persen dari surplus itu sudah dikuasai oleh Bulog. Sementara untuk persediaan beras selama bulan Suci Ramadhan dan Idul Fitri, Bulog mengklain sudah ada stok beras sebanyak 468 ribu ton.

Ma’mur menambahkan,”Kebijakan melakukan impor disaat produksi dan serapan tinggi sesungguhnya menunjukan adanya koordinasi yang lemah dan ketidakberpihakan pangan di lingkungan Kementerian koordinator perekonomian, “

Kementerian Pertanian menargetkan produksi beras tahun 2012 mencapai 41 juta ton atau setara 74,1 juta ton gabah kering giling. Angka itu naik sebesar 7,9% dari target produksi beras tahun ini yang diperkirakan 38 juta ton atau setara 70,6 juta ton gabah kering giling. Kenaikan produksi dilakukan sebagai upaya mengejar target swasembada di tahun 2014 dan surplus beras 10 juta ton dalam lima sampai sepuluh tahun mendatang. Untuk mendukung pencapaian itu, Kementerian Pertanian mendapat dana subsidi pangan Rp 41,9 triliun.

Editor: Yulis Sulistyawan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
748251 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas