Home »

Bisnis

»

Makro

Kerugian Kekeringan Mencapai Rp 12,46 Miliar

Kekeringan lahan pertanian dan krisis air bersih akibat musim kemarau di Kabupaten Garut kian mengganas

Kerugian Kekeringan Mencapai Rp 12,46 Miliar
Wartakota
ilustrasi kekeringan

TRIBUNNEWS.COM, GARUT - Kekeringan lahan pertanian dan krisis air bersih akibat musim kemarau di Kabupaten Garut kian mengganas. Akibatnya, ribuan hektare area pertanian mengalami kekeringan dengan kerugian lebih dari Rp 12,46 miliar.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Garut, Tatang Hidayat, mengatakan, berdasarkan laporan petugas lapangan, pekan lalu, 4.338 hektare areal pertanian mengalami kekeringan. Menurut dia, pada kekeringan tahun ini terjadi peningkatan cukup signifikan. Sebab, tahun lalu lahan pertanian yang kekeringan akibat kemarau hanya mencapai 3.002 hektare.

"Kini 67 hektare di antaranya mengalami puso, ketika tanamannya kering 76 persen sampai mati. Sisanya seluas 170 hektare masuk katagori berat yang kerusakannya di atas 51-75 persen. Kekeringan kategori sedang dialami 222 hektare sawah, dan kategori ringan dialami 649 hektare sawah. Sementara itu, yang masuk katagori terancam kekeringan mencapai seluas 3.233 hektare," kata Tatang, Sabtu (28/7/2012).

Menurut Tatang, musim kemarau melanda Kabupaten Garut bagian utara sejak minggu ketiga April. Kemudian merembet ke Garut tengah dan selatan sampai mengakibatkan kerugian belasan miliar rupiah.

Berdasarkan data terakhir, kekeringan terjadi di 196 desa yang tersebar di 33 kecamatan di Kabupaten Garut. Diperkirakan, kemarau akan berakhir bulan September atau Oktober dan luas area pertanian yang mengalami kekeringan pun akan terus bertambah.

"Iklim semakin ekstrem dan diperkirakan akan terjadi peningkatan baik luas area maupun intensitas kekeringan. Namun, kami berharap hal itu tidak sampai terjadi," ujar Tatang.

Untuk mencegah kerugian yang lebih besar, ujar Tatang, bantuan berupa 44 unit pompa air diberikan pada 21 kecamatan dan 40 desa. Selain itu, sejumlah kelompok tani di 26 kecamatan dan 39 desa mendapat 39 unit hand tractor untuk percepatan pengolahan tanah dan percepatan tanam.

Pemberian bantuan pun diberikan untuk rehabilitasi jaringan irigasi tingkat desa sebanyak 67 unit atau setara dengan 3.350 hektare yang tersebar di 40 kecamatan.

"Kepala UPTD Dinas TPH dan pemerintah kecamatan atau desa harus memberikan imbauan supaya para petani menanam padi pada lahan sawah beririgasi teknis dan irigasi pedesaan, jangan komoditas lain," kata Tatang.

Untuk kawasan yang diairi irigasi pedesaan dengan kuantitas air yang kurang baik, Tatang menyarankan supaya menanam padi juga palawija berumur pendek seperti jagung, kedelai, dan sayuran. Sedangkan, untuk sawah tadah hujan, petani tidak dianjurkan menanam komoditas apa pun saat musim kemarau.

Walaupun demikian, hasil panen pada Juli 2012, Kabupaten Garut menghasilkan 33.775 ton padi. Hasil panen tersebut bisa menyiapkan cadangan beras sebanyak 27 ribu ton untuk Agustus, dan sekitar 29 ribu ton untuk September. Dengan demikian, ucapnya, Kabupaten Garut masih mengalami surplus beras.

Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help