Senin, 22 Desember 2014
Tribunnews.com

Denyut Mobil Bekas di Tengah Ramadhan

Senin, 30 Juli 2012 19:28 WIB

Denyut Mobil Bekas di Tengah Ramadhan
Kompas Nasional/PRIYOMBODO
Ilustrasi

Laporan Sari Oktavia
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ketika menyebut Margonda, ada dua hal yang selalu terbayang, yakni kuliner dan mobil bekas. Ya, di sepanjang Margonda, setiap warung atau restoran kuliner selalu dipenuhi oleh pembeli yang memanjakan lidahnya.

Namun demikian, nasib showroom mobil bekas tak sama dengan nasib berbagai warung ataupun restoran yang menyajikan berbagai kuliner. Penjualan mobil bekas justru menurun drastis di bulan Ramadhan ini.

"Kami bisa menjual sekitar 10-12 unit mobil bekas per bulan di bulan selain Ramadhan. Kalau di Ramadhan, paling laku ya sekitar 7-8 unit dalam sebulan," ungkap karyawan Rizky Utama Motor Azis.

Mengenai penyebab turunnya penjualan mobil bekas, masing-masing karyawan showroom memiliki analisa sendiri. "Yah, kalau puasa kan kebutuhannya banyak. Jadi, biaya yang dikeluarkan banyak. Jadinya keperluan untuk membeli mobil dikesampingkan," ungkap Azis.

Penyebab yang sedikit berbeda dikemukakan oleh Idrus. "Kan baru saja ada penerimaan siswa atau mahasiswa baru. Bersamaan dengan jadwal masuk sekolah setelah liburan. Jadi ya, mungkin keuangan keluarga digunakan untuk itu dulu," ujar Idrus.

Hal yang senada juga disampaikan Didi. " Iya, kan mepet dengan masuk sekolah, jadi ya, penjualan seret," tambah Didi.

Meski penjualan memang sudah dipastikan turun, showroom-showroom jual/beli/tukar tambah mobil bekas tetap akan berusaha optimis untuk penjualan di Ramadhan tahun ini.

"Meski memang diprediksi turun, ya, tapi tetap akan berusaha menampilkan produk sebagus mungkin, sehingga masyarakat tertarik untuk membeli mobil," tambah Didi.

Meski penjualan mobil bekas pada bulan Ramadhan sudah pasti diprediksi turun, para penggiat usaha penjualan mobil bekas ini tidak menyerah begitu saja. Berbagai usaha dilakukan untuk terus memompa denyut penjualan mobil bekas ini, seperti perbaikan kualitas mobil dan penawaran pembayaran sistem kredit.

"Kami harus pintar-pintar membeli mobil, kemudian mengubahnya menjadi lebih bagus, sehingga masyarakat tertarik," ungkap Didi.

Showroom penjualan mobil bekas ini biasanya membeli mobil dari daerah Jakarta dan sekitarnya dengan menggunakan jasa makelar atau calo.

Selain menggunakan jasa calo, pihak showroom juga akan langsung terjun ke lapangan untuk membeli mobil sesuai permintaan pembeli.  Sesudah membeli mobil, langkah selanjutnya adalah memodifikasi atau mendandani mobil sehingga terlihat lebih bagus.

"Ya, biasanya kami bawa ke bengkel. Kalau ada yang lecet, ya dicat lagi, pokoknya didandani ulang sehingga lebih bagus. Tapi yang original atau asli, akan tetap dipertahankan untuk menambah harga jual," ujar Didi.

Selain dengan mendandani mobil, sehingga lebih bagus, strategi lainnya yang dilakukan adalah dengan menawarkan beragam sistem pembayaran.

"Pembeli mobil bekas bisa membeli secara cash atau langsung maupun dengan kredit," ungkap Idrus, karyawan Mobil 99. Menurut Idrus, showroom telah bekerja sama dengan berbagai lembaga leasing (penyewaan) seperti Bank Mandiri, BCA, Oto, BFI Finance, Adira, dan masih banyak lagi.

Dengan menggunakan sistem kredit, pembeli diberi kesempatan untuk membayar mobil bekas yang dibeli dalam jangka waktu yang cukup lama mulai dari satu tahun hingga empat tahun sesuai kemampuan ekonomi masing-masing.

Penjualan mobil bekas di Depok mungkin tak secemerlang nasib penjualan kuliner yang digemari sepanjang musim. Meski demikian, denyutnya yang hingga kini masih ada menunjukkan masa depan bisnis ini yang tetap menunjukkan optimisme. (*)

BACA JUGA :

Editor: Sugiyarto

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas