• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 1 November 2014
Tribunnews.com

Bangun MRO, Angkasa Pura I Gandeng Boeing

Selasa, 14 Agustus 2012 09:19 WIB
Bangun MRO, Angkasa Pura I Gandeng Boeing
Salah satu bentuk kegiatan yang dilakukan di GMF

Laporan Wartawan Tribun, Sanusi dan Hendra Gunawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pasar penerbangan nasional yang maju pesat dari tahun ke tahun ternyata semakin dilirik oleh asing. Buktinya, Boeing Company, perusahaan pemanufaktur pesawat dan aeroangkasa yang bermarkas di Chicago, Amerika Serikat berencana menggandeng PT Angkasa Pura I (AP I) untuk membuka bengkel pesawatnya di Indonesia (maintenance, repair and overhaul/MRO).

Miduk Situmorang, Sekretaris Perusahaan Angkasa Pura I, mengatakan salah satu alasan Boeing membuka MRO di Indonesia yaitu jumlah armada jenis Boeing yang beroperasi di Indonesia cukup banyak dan hal itu menjadi ceruk bisnis tersendiri untuk Boeing. Apalagi, jumlah MRO yang ada di Indonesia sangat minim.    

"Kemungkinan besar kami akan meneken nota kesepahaman dengan Boeing tahun ini, sedangkan pelaksanaan atau konstruksinya bisa dilakukan pada semester I 2013," ujar Miduk, Senin (13/8/2012).

Untuk lokasi MRO, saat ini AP I masih melakukan feasibilty studies di dua lokasi di wilayah timur yaitu Lombok dan Makassar. Untuk Makassar, AP I memilih untuk membangun MRO di Bandara Sultan Hasanuddin. Untuk Lombok, perseroan memilih Bandara Selaparang.

"Kami memilih Makassar karena wilayah itu hub Indonesia Timur. Lagipula kami ingin memanfaatkan terminal lama. Pada intinya kami ingin optimalisasi aset perseroan," kata Miduk.

Miduk menuturkan, skema perjanjian kerja sama AP I dengan Boeing yaitu perseroan akan menyiapkan lahan dan Boeing akan menyewa kepada perseroan.

"Selain soal sewa lahan, kami juga bakal membicarakan soal lama operasi di MRO tersebut. Jangan sampai kita sudah bangun MRO ternyata Boeing hanya beroperasi sebentar," katanya.

Pertumbuhan penerbangan yang luar biasa, diyakini bakal berimbas pada potensi bisnis MRO pesawat di Indonesia. Bahkan negeri ini disebut-sebut menjadi negara yang paling menjanjikan dalam hal perbengkelan pesawat.

Pada 2020 nanti, Kementerian Perhubungan memprediksi maskapai penerbangan bakal mengeluarkan dana sebesar 65,3 juta dolar AS untuk merawat pesawat mereka.

Namun hingga saat ini, sebanyak 74 bengkel perawatan pesawat yang mengantongi Approved Maintenance Organization (AMO), termasuk milik PT GMF AeroAsia (anak usaha PT Garuda Indonesia), baru mampu menyerap pangsa pasar lokal sebesar 30 persen. Masalah keterbatasan fasilitas membuat 70 persen pangsa pasar perawatan pesawat diambil perusahaan MRO di luar negeri.

Editor: sanusi
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas