Kopi Kelas Dunia di Sudut Cantik Tegallega

BAHKAN sekalipun kita bukanlah seorang ahli kopi, sensasi keasaman yang menyegarkan seperti kesegaran

Kopi Kelas Dunia di Sudut Cantik Tegallega
Shutterstock
Ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Arief Permadi

TRIBUNNEWS.COM -- BAHKAN sekalipun kita bukanlah seorang ahli kopi, sensasi keasaman yang menyegarkan seperti kesegaran buah-buahan itu pasti akan bisa kita rasakan. Sensasi rasa yang memang sulit sekali diungkapkan dengan kata-kata. Sesulit kita melupakannya sejak pertama kali mencoba.

"Para ahli kopi menyebut itu dengan istilah acidity, satu dari empat atribut penting  dalam communicating about coffee, selain  body, aroma, dan flavors. Tapi, jangan terlalu memusingkan istilah-istilah itu, suka-suka saja. Yang penting happy," ujar Yadi Mulyadi (40) ringan, saat ditemui di tempatnya yang asri, Klasik Beans Sunda Hejo Coffee di Pasar Bunga Kav 6 Tegallega, Jalan Mochamad Toha, Bandung, belum lama ini.

Seperti biasa, malam itu pun Yadi terlihat sibuk. Bukan hanya melayani pesanan kopi yang dari tamu-tamunya yang silih berganti datang hingga larut, tapi juga menemani para sahabatnya itu mengobrol, menjawab beragam pertanyaan mereka tentang seluk belum kopi, mulai dari yang sederhana soal macam-macam rasanya, hingga urusan yang rumit seperti soal budidaya, pengolahan, dan prospek bisnisnya, termasuk perjalanan panjang kopi yang ia sajikan itu menembus pasar kopi dunia.

Yadi mengaku, sekalipun tak semua tamu yang datang ke tempatnya ia kenal secara pribadi, semua penyuka kopi adalah sahabat dalam kecintaan mereka pada kopi. "Itu sebabnya, semua yang datang kemari selalu kami perlakukan sebagai sahabat. Di sini ada kopi bagus yang bisa kita nikmati sepuasnya," tutur Yadi.

Disambut dua kolam kecil yang memanjang di pintu masuk, ketentraman memang langsung terasa saat datang ke Klasika Beans Sunda Hejo, tempat Yadi setiap hari memusatkan  kegiatannya selama lima bulan terakhir. Selain pohon-pohon bunga dan tanaman hias yang tertata rapi, meja dan kursi-kursi batu juga ditata menyebar di antara hijaunya dedaunan.

Di situlah, kata Yadi, para sahabatnya biasanya menghabiskan waktu. "Mereka tak hanya berasal dari Bandung, tapi banyak pula yang sengaja datang dari luar kota."

Berbeda dengan di tepian kolam, ornamen bambu menjadi bagian yang sangat dominan saat masuk ke ruangan. Di dalam nyaris tak ada sekat yang menghalangi pandangan. Hanya kursi-kursi panjang dan meja, serta semacam meja bar kecil yang manis tempat Yadi meracik dan menyeduh kopi, serta menyimpan layar komputer online yang selalu menyala hampir sepanjang hari.

Satu-satunya yang barangkali terasa tak lazim, mungkin adalah tiadanya daftar menu dan harga yang membuat orang tahu apa saja yang ada, atau harus seberapa dalam merogoh kocek untuk secangkir kopi arabica lezat di tempat tersebut.

"Hahahahahaha. Ini memang bukan kafe. Tapi, siapa pun pencinta kopi, dapat datang kemari dan merasakan nikmatnya kopi Sunda Hejo, satu-satunya kopi arabika yang disajikan di sini," kata Yadi.
Dan, karena bukan kafe inilah, kata Yadi, tak perlu membayar untuk menikmati kopi di tempatnya. "Tapi, kalau memaksa mau membayar karena tak terbiasa menikmati secangkir kopi secara gratis, masukkan saja uangnya ke kencleng yang tertutup itu. Berapa saja, sesukanya."

Halaman
12
Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Tribun Jabar
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved