• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 19 September 2014
Tribunnews.com

PP no 109 Tahun 2012 Dapat Timbulkan Membanjirnya Tembakau Impor

Minggu, 13 Januari 2013 13:04 WIB
PP no 109 Tahun 2012 Dapat  Timbulkan  Membanjirnya  Tembakau  Impor
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Uum (52), seorang bandar lapangan mengiris daun tembakau yang masih hijau sebelum dijemur di tempat produksinya di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (26/8/2012). Ketua Kelompok Tani Tembakau Nanjungwangi ini mengeluhkan harga tembakau mole pada musim panen tahun ini merosot menjadi Rp 18.000 - 20.000 per kg, jauh dari tahun sebelumnya Rp 50.000 - Rp 60.000 per kg. Merosotnya harga tersebut diduga ulah permainan tengkulak. TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN

TRIBUNNEWS.COM  JAKARTA -  Dengan  adanya  pemberlakukan  tentang  pengamanan bahan  yang mengandung  zat aktif  berupa produk  tembakau  bagi kesehatan  dalm  PP no 109 tahun  2012, dikhawatirkan  dapat menimbulkan  banjirnya  tembakau impor.

Hal ini dikatakan   Sholeh dari BEM Batavia Raya  Perhimpunan  Mahasiswa  Jakarta  Amuk Rakyat  dalam  pernyataan sikap  terkait  dengan  Pemberlakukan  PP no 109 tahun 20112  di Jakarta yang  juga dihadiri Zulfian (The Jakarta Institute) dan Fikri ( Batavia Raya)   Minggu (13/1/2013), tembakau impor lebih bisa memenuhi standarisasi yang ditetapkan dalam aturan itu, ketimbang tembakau lokal,

Diutarakn  Shuleh  dalam beberapa tahun terakhir impor tembakau selalu melonjak setiap tahunnya. Pada 2003, volume impor tembakau hanya 23 ribu ton. Kemudian impor di 2011 naik menjadi 91 ribu ton, Pada 2012 impor tembakau menembus 100 ribu ton dan dikhawatirkan tahun ini impor tembakau bisa 120 ribu ton.

"Masuknya tembakau impor sangat memukul harga tembakau di kalangan petani lokal, pada 2012 ketika impor tembakau cenderung meningkat, harga tembakau terkoreksi. Tahun lalu, harga tembakau turun 20% hingga 35% dibandingkan harga 2011. Di saat yang sama, produksi tembakau selama 2012 naik 9,68% (year-on-year) menjadi 170 ribu ton," Katanya

Hal ini kata  Rahmat, isi pasal-pasal yang tercantum dalam PP No 109 Tahun 2012 yang menekan industri rokok dalam negeri, maka bisa dipastikan petani tembakau ikut terkena dampaknya. Pasal 10 hingga pasal 12 jelas akn menekan petani tembakau karena ada standardisasi dan petani tembakau tidak bisa memenuhi itu.

"Perlu diingat dalam  PP 109 tahun 2012 tentang Produk Tembakau ini, masih dapat dipertanyakan keberadaannya secara hukum. Apabila kemudian dianggap tidak sesuai keberadaannya dengan situasi dan kondisi di Indonesia, maka PP tersebut pun bisa hanya tinggal cerita belaka," ungkap  Rahmat.

Bahkan, Menteri pun menyampaikan informasi yang menyesatkan karena mengklaim bahwa zat adiktif lainnya sudah diatur oleh peraturan tentang psikotropika. Padahal, tidak ada peraturan zat adiktif seperti alkohol dan caffeine misalnya untuk kesehatan yang juga diamanatkan oleh UU No. 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan. Ini bisa saja Menteri terbuka untuk dituntut melakukan kebohongan publik," Ujarnya

Penulis: Budi Prasetyo
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1319251 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas