Selasa, 23 Desember 2014
Tribunnews.com

Produksi Kerupuk Turun Hingga 50 Persen

Kamis, 31 Januari 2013 07:00 WIB

Produksi Kerupuk Turun Hingga 50 Persen
net
Kerupuk Melarat Khas Cirebon, Jabar

TRIBUNNEWS.COM, CIREBON - Selama musim hujan, produksi kerupuk melarat menurun hingga 50 persen. Penurunan terjadi lantaran kurangnya sinar matahari untuk mengeringkan salah satu makanan khas Cirebon itu.

"Produksi saya setiap minggu, selama musin hujan, sekitar delapan kuintal. Padahal, biasanya, saya bisa produksi sampai lima belas kuintal," ujar Eli (53), pengusaha krupuk melarat di Desa Gesik, Kecamatan Tengah Tani, Kabupaten Cirebon, saat ditemui Tribun, Rabu (30/1).

Eli menjual kerupuk melarat mentah dengan banderol Rp 750.000 setiap kuintal. Itu berarti, Eli kehilangan pendapatan sekitar Rp 5,25 juta per pekan selama musim hujan atau rata-rata Rp 21 juta tiap bulan. Ia mengaku belum sampai merugi, tapi mengalami pengurangan produksi.

Minimnya panas matahari membuat Eli harus menunggu lebih lama agar kerupuknya kering. Jika matahari terik, kata Eli, ia dengan sembilan karyawannya hanya membutuhkan satu hari untuk memproduksi 2 hingga 2,5 kuintal kerupuk melarat mentah.

Pukul 06.00, mereka mulai membuat adonan dari tepung tapioka kemudian menjemur olahannya hingga sekitar pukul 14.00. Namun, selama musim hujan, proses penjemuran yang baik membutuhkan waktu minimal selama dua hari. Hasilnya memang tak persis sebaik jemuran kerupuk saat kemarau.

Menurut dia, kerupuk yang dijemur di bawah terik matahari lebih tipis serta ringan. Namun, hal itu tak mengubah harga penjualan. Hal terburuk selama musim hujan adalah setop produksi untuk sementara waktu.
"Kalau hujan terus, terpaksa kami libur," katanya.

Pengusaha kerupuk melarat yang lain di Desa Gesik, H Anayah (58), juga mengalami penurunan produksi tapi belum separah yang dialami Eli. Pria itu mengaku hanya kekurangan dua sampai tiga kuintal tiap pekan. Dengan harga Rp 700.000-750.000 per kuintal, maksimal ia kekurangan pemasukan Rp 9 juta per bulan.

Ia mengakui, sejauh ini, ia bersama 15 karyawannya mampu memenuhi permintaan kiriman kerupuk mentah ke wilayah III Cirebon, yakni Kota dan Kabupaten Cirebon, Majalengka, Indramayu, dan Kuningan. Sebagian kerupuk mentah produksinya diolah anaknya.

"Anak saya sangrai kerupuk melarat dari saya sebanyak 50 kilogram per hari," ujar pria yang membuka usaha krupuk melarat sejak 35 tahun silam.
Namun, sama seperti Eli, Anayah tak menghindari kondisi terburuk dalam usahanya. "Kalau tiga hari berturut hujan terus, kami tidak berproduksi," katanya.

Editor: sanusi
Sumber: Tribun Jabar

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas