• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 2 Oktober 2014
Tribunnews.com

Gurihnya Laba Soto Pecok

Jumat, 1 Maret 2013 17:57 WIB
Gurihnya Laba Soto Pecok
net
ilustrasi

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Apa yang Anda pikirkan saat mendengar kata pecok? Pecok dalam bahasa Jawa artinya memotong-motong bagian tubuh. Adalah Alex Ferharsono yang terinspirasi membuka usaha Soto Pecok sejak 2004 silam.

Berbeda dengan soto ayam lain yang hanya memanfaatkan dagingnya, Alex menggunakan seluruh bagian tubuh ayam, mulai dari kepala hingga ceker.

Lebih khas lagi, dia tidak menyuir-nyuir bagian tubuh ayam, namun memotong-motong (pecok) seluruh bagian tubuh ayam menjadi bagian-bagian yang kecil. Tak heran, nama makanan ini disebut Soto Ayam Pecok Klaten.

"Ternyata banyak penggemarnya, dan bisnis ini sangat menguntungkan," katanya seperti dilansir Tribunnews dari KONTAN.

Alex memiliki racikan khusus untuk kuah soto, sehingga rasanya seperti kare. Namun, dia merahasiakan racikan bumbu itu.

Yang pasti, lantaran bisnisnya laris, dia gencar membuka cabang. Dia juga mulai menawarkan kemitraan Soto Ayam Pecok Klaten sejak 2007. Kini, Soto Ayam Pecok Klaten memiliki 30 gerai yang tersebar di Klaten, Prambanan, Jogya, Solo, Malang, Bogor, Jakarta, hingga Sumatera.

Alex mengelola sendiri empat gerai di daerah Klaten. Soto Ayam Pecok Klaten menyajikan beragam variasi menu, mulai dari soto kulit, soto ceker juga soto brutu.

Harganya bervariasi, mulai dari Rp 5.000-Rp 12.000 per porsi. "Namun, harga bervariasi sesuai daerah, yang di kota besar seperti Jakarta tentu berbeda, karena sewa tempatnya juga beda," ujar Alex.

Royalti fee 5%

Jika tertarik menjadi mita, Anda harus menyiapkan dana Rp 75 juta untuk menjadi mitra Soto Ayam Pecok Klaten. Dengan investasi itu, mitra mendapat peralatan lengkap, meliputi gerobak, alat masak, meja kursi, mangkok, serta spanduk.

Untuk menjaga rasa dan kualitas, mitra harus memasok bumbu langsung dari pusat seharga Rp 700.000 hingga Rp 1 juta untuk persediaan 15 hari. Karyawan yang dibutuhkan sekitar 3-6 orang, tergantung kondisi masing-masing gerai.

Mitra juga wajib membayar royalty fee 5 persen dari omzet. Alex berjanji memantau secara rutin perkembangan bisnis mitranya. "Biasanya saat mengantar bumbu, kami sekalian memantau perkembangan mitra. Ini untuk memastikan kualitas menu," ungkap Alex.

Alex menghitung, dalam sehari, mitra bisa meraih omzet Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta, jika hari normal dan Rp 3 juta saat ramai pengunjung, seperti akhir pekan. Artinya, dalam sebulan omzet mitra bisa mencapai Rp 60 juta.

Keuntungan mitra ditargetkan sekitar 15 persen-25 persen. Jika bisnis berjalan lancar, Alex bilang, mitra dapat balik modal kuran dari setahun. (Pravita Kusumaningtias)

Editor: sanusi
Sumber: Kontan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1500361 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas