• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribunnews.com

Naiknya Bea Keluar Picu Penurunan Harga Sawit

Senin, 4 Maret 2013 10:22 WIB
Naiknya Bea Keluar Picu Penurunan Harga Sawit
KOMPAS/PRIYOMBODO
Pekerja membongkar minyak kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) di Kapal Kencana 89 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (4/2/2013). Pelaku bisnis mengeluhkan penetapan bea keluar minyak sawit mentah sebesar 9 persen pada bulan Februari ini atau lebih tinggi dibanding bea keluar pada bulan Januari yang dipatok 7,5 persen. Kondisi tersebut dinilai akan melemahkan daya saing CPO Indonesia di pasar global. KOMPAS/PRIYOMBODO

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI - Kenaikan bea keluar (BK) kelapa sawit yang diumumkan pemerintah beberapa hari lalu langsung berimbas ke harga tandan buah segar (TBS) sawit. Harga TBS terpukul turun.

Hasil rapat penetapan harga TBS periode 1-7 Maret 2013 di Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Jambi membuktikan hal itu.

Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Disbun Provinsi Jambi, Putri Rainun, mengatakan harga sawit produktif yakni umur 10 hingga 20 tahun dihargai Rp 1.353 per kilogram (kg).

Menurutnya, harga ini mengalami penurunan dibanding sebelumnya yang mencapai Rp 1.377 per kg. Harga sawit ini adalah yang kualitasnya atau nilai randemen tinggi. Sedangkan harga kelapa sawit yang nilai rendemennya rendah bisa di harga Rp 800 per kg.

"Ya dari rapat Pokja harga kelapa sawit Jambi turun dibanding harga sebelumnya. Kita belum tahu pasti peneyebabnya. Kalau permintaan nampaknya tidak turun," kata Putri Rainun kepada Tribun Jambi (Tribunnews Network), akhir pekan lalu.

Untuk harga rata‑rata crude palm oil (CPO) perusahaan Rp 6.515 per kilogram dan harga inti sawit Rp 3.004 per kg. Sebelumnya harga CPO Rp 6.658 dan inti sawit Rp 2.939 per kg. Artinya untuk harga CPO menurun sedangkan inti sawit mengalami kenaikan.

Penurunan harga ini, oleh Asosiasi Petani Kelapa Sawit (Apkasindo) Jambi dinilai lantaran terimbas besarnya bea keluar yang kini ditetapkan 10,2 persen.

Ketua Apkasindo Jambi, Muhammad mengatakan saat ini tim pokja yang terdiri dari Disbun, perusahaan sawit dan Apkasindo sedang menjajaki usulan kepada gubernur untuk mendesak pemerintah pusat menurunkan bea keluar sawit. Dengan demikian akan bisa mendongkrak harga TBS maupun CPO.

"Selain masalah klasik, tingginya bea keluar 10,2 persen juga mempengaruhi turunnya harga TBS. Sedangkan negara Malaysia 4 persen. Ini mempengaruhi harga," katanya.

Berdasarkan data perusahaan kelapa sawit yang tergabung dalam tim Pokja dari 20 PMKS yang masuk rapat TBS, perusahaan yang menjual CPO dan sawit inti hanya 6 perusahaan. Sedangkan 10 perusahaan tidak menjual CPO dan empat perusahaan tidak mengirimkan laporan invoice.

"Sepertinya perusahaan juga masih melihat peluang yang bagus untuk jual CPO nya jadi masih nunggu pembeli," katanya. (hdp)

Editor: Dewi Agustina
Sumber: Tribun Jambi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1507982 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas