• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 21 September 2014
Tribunnews.com

Harga Turun, Asosiasi Desak Pembatasan Kuota Karet

Senin, 11 Maret 2013 10:43 WIB
Harga Turun, Asosiasi Desak Pembatasan Kuota Karet
Getah karet

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI - Harga indikasi karet mengalami penurunan. Sebelumnya harga karet kering berkualitas 100 persen dibanderol Rp 26.300 per kilogram, sementara sudah dua pekan ini terus merosot ke posisi Rp 24.500.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Jambi, Randy Arifien Porta, menyatakan penurunan tidak hanya terjadi di Jambi, tapi di pasar internasional.

"Harga indikasi karet saat ini masih Rp 24.500 per kilogram. Yang lebih bagus bisa lebih tinggi. Dua pekan ini menurun dari sebelumnya Rp 26.300," katanya, Minggu (10/3/2013).

Randy mengatakan, merosotnya harga karet dipicu krisis melandai Eropa dan melimpahnya stok karet di negara ekspor utama Cina. "Permintaan lemah, karena stok di Cina masih banyak, over stok. Sekarang pembeli terbesar tinggal Cina. Jadi begitu Cina over stok pasar rusuh lah," jelasnya.

Terkait harga karet yang terus jatuh ini, Arifin mengatakan dalam waktu dekat tiga negara penghasil karet terbesar, Indonesia, Malaysia, dan Thailand akan mengadakan pertemuan. Gapkindo akan mendesak untuk segera dilakukan pembatasan kuota ekpor karet. Karena pembatasan kuota ekspor sebelumnya sudah habis, untuk itu perlu dilakukan pertemuan.

"Ini tiga negara akan rapat. Bulan lalu bisa kita tanggulangi dengan pembatasan dengan kuota ekspor yang disepakati oleh tiga negara. Jadi harga bisa terdongkrak sampai 3 dollar AS," sebutnya

Gapkimdo berharap dengan adanya pertemuan nanti bisa menghasilkan jalan keluar untuk mendongkrak harga. Dengan demikian tentu petani dan pengusaha karet bisa lebih berkembang kedepan.

"Kalau harga turun terus, kasihan petani dan pabrik juga tambah parah," katanya. Ia juga mengakui total ekspor karet mengalami penurunan baik di Jambi maupun secara nasional.

"Ekspor turun ini tidak hanya di Jambi, karena memang pembelinya yang nggak kuat," katanya lagi.

Sementara berdasarkan data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi ekspor karet olahan Jambi meningkat 3,84 persen pada Januari 2013. Untuk negara tujuan Cina ekspor karet per Januari 2013 senilai 975 ribu dolar AS.

"Nilai ekspor kelompok industri mengalami kenaikan nilai ekspor 1,24 persen, terbesar pada kayu lapis dan olahan mencapai 32,08 persen. Sedangkan karet olahan naik sebesar 3,84 persen," kata Yos Rusdiansyah, kepala BPS Provinsi Jambi. (hdp)

Editor: sanusi
Sumber: Tribun Jambi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1538222 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas