• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 2 September 2014
Tribunnews.com

Cikarang Dry Port Diharapkan Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi

Minggu, 31 Maret 2013 16:46 WIB
Cikarang  Dry  Port  Diharapkan  Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi
DOK
Dry Port Cikarang

TRIBUNNEWS.COM JAKARTA -- Pelabuhan daratan pertama kali di Indonesia    Cikarang  Dry Port  (CDP)  yang terletak di kawasan industri terbesar di timur Jakarta itu kini sudah beroperasi dengan layanan terpadu pemerintah dan terintegrasi akses jalur keretBenny Woenardi,a api menuju ke arah timur Jawa.

Menurut   penjelasan Managing   Director CDP  Benny Woenardi , Sabtu (30/3/2013)   merupakan Pelabuhan Daratan pertama di Indonesia yang memiliki Kode Pelabuhan Internasional dan dipercaya sebagai Kawasan Pelayanan Pabean Terpadu (KPPT) pertama. Layanan Kepelabuhanan, Kepabeanan, Karantina, BPOM sudah disediakan oleh pemerintah dan online melalui Indonesia National Single Window (INSW).

Selama ini, lama waktu tunggu petikemas sejak turun dari kapal sampai dengan petikemas keluar pelabuhan atau dwelling time di Tanjung Priok rata-rata hingga 6 hari. Jika CDP ini beroperasi penuh, penumpukan petikemas di Pelabuhan Tanjung Priok dan sekitarnya, bakal berkurang secara drastis. "Petikemas yang melalui CDP berkontribusi menurunkan Dwelling Time di Pelabuhan Tanjung Priok, rata-rata 2,8 hari," katanya

Pada  kesempatan  yang  sama  pengamat ekonomi dari CSIS, Pande Radja Silalahi mengakui bila CDP menjadi salah satu simpul mengurai ruwetnya persoalan distribusi petikemas dan infrastruktur pelabuhan, “Harus ada cara cerdas begini, karena jika memaksakan untuk masuk ke pelabuhan, jelas akan menambah ruwet jalan yang ongkos ekonominya sangat mahal,” uar Pande.

Pande kemudian mencontohkan India yang sudah memakai system seperti CDP ini, “di India, pelabuhannya lebih kecil dari Tanjung Priok, tetapi kapasistas angkutnya besar. Itu karean proses custom dan sewmua turunannya dilakukan jauh dari pelabuhan, sehingga petikemas tinggal angkut,” tambahnya.

CDP bisa menjadi andalan baru dari sistem distribusi logistik di Tanah Air. Pelabuhan di darat yang resmi beroperasi pada 18 Agustus 2010 silam ini juga bakal memberikan keuntungan bagi pengusaha. "Kerugian akibat kemacetan parah di sekitar Tanjung Priok pun bisa dihindari pengusaha dengan mengambil atau mengantar petikemas ke CDP yang lebih dekat dari pabrik atau gudang. Selain itu, petikemas dari dan menuju CDP lebih efektif karena sama-sama bisa mengangkut barang. " tambah Pande.

Menuru Benny lagi, saat ini sebagian besar petikemas impor dari Priok dalam keadaan isi, dan pulang dalam keadaan kosong. Melalui CDP tersedia jasa logistik yang terintegrasi dengan puluhan perusahaan logistik dan supply chain; seperti pelayaran, operator terminal, stasiun kereta, gudang, transportasi, logistik pihak ketiga (3PL), depo kontainer kosong, serta bank dan fasilitas pendukung lainnya. "Pelabuhan ini telah terhubung dengan pelabuhan lain di dunia melalui perusahaan pelayaran internasional serta sudah menggunakan standar internasional dalam pengelolaan pelabuhan,” ungkap Benny.

Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurti, dalam kunjungan ke CDP akhir tahun lalu menyatakan, CDP bisa mengurangi beban Tanjung Priok. CDP juga mempunyai fungsi sangat strategis karena itu, pemerintah menilai perlu dukungan regulasi yang memadai untuk mengoptimalkan pelabuhan darat pertama di Indonesia ini. “Bila CDP dioptimalkan, tekanan kemacetan di Priok bisa berkurang,” ujarnya.

Dukungan regulasi itu ditunjukkan pemerintah dengan menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2010 tentang Percepatan Pelaksanaan Prioritas Pembangunan Nasional Tahun 2010, Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 32 Tahun 2011 tentang MP3EI, Perpres 26/2012 tentang Cetak Biru Sistem Logistik Nasional 2012-2015, Keputusan Presiden (Keppres) 54/2002 mengenai Koordinasi Percepatan Arus Barang Ekspor dan Impor yang kemudian diubah menjadi Keppres 22/2007.

CDP sendiri memiliki lokasi seluas 200 hektar dan didesain untuk mampu menampung sebanyak 2 juta Twenty foot Equivalent Units (TEUs). Kapasitas terpasang saat ini 400.000 TEUs, namun utilisasi baru sekitar 5%. Jasa angkutan kereta api dari dan menuju CDP sudah beroperasi sejak Juli 2012 lalu, hasil kerjasama operasi (KSO) antara PT Jababeka Infrastruktur dan PT Kereta Api Logistik.

Editor: Budi Prasetyo
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1614351 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas