Rabu, 8 Juli 2015
Tribunnews.com

Pengusaha Dapat Melawan Korupsi dengan Berbisnis Sehat

Jumat, 5 April 2013 00:51 WIB

Pengusaha Dapat Melawan Korupsi dengan Berbisnis Sehat
Tribunnews.com/Domu D Ambarita
Pengusaha nasional Theodore Permadi Rachmat atau lebih populer disapa TP Rachmat (kiri) didampingi Ketua Presidium ISKA Muliawan Margadana (kanan) di tengah forum diskusi TP Rachmat Berbagi di kampus Universitas Atma Jaya Jakarta, Kamis (4/4/2013). Menurut Majalah Forbes, TP Rachmat orang terkaya Indonesia peringkat ke-16 tahun 2011. Acara ini kerja sama Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) dengan Universitas Atma Jaya.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Kondisi karut-marut bangsa ini menimpa banyak sektor kehidupan, termasuk bisnis. Pertumbuhan ekonomi yang di atas 6 persen ternyata juga diikuti dengan semakin terpuruknya indeks GINI kita yang menandakan bahwa pemerataan kesejateraan tidak terbagi dengan baik.

Tak kalah ironis adalah perilaku korup dari oknum pejabat pemerintah yang sayangnya hampir selalu melibatkan pengusaha.

"Nilai-nilai enterpreneurship serta pembelajaran yang ditawarkan Teddy Rahmat kian terasa urgensinya bila kita kaitkan dengan langkah Indonesia menandatangani persetujuan AFTA (ASEAN Free Trade Area) dan AFAS (ASEAN Framework Agreement on Services) -- yang akan berlaku penuh pada 2015," ujar Ketua Presidium Pusat ISKA Muliawan Margadana dalam sambutan diskusi dengan tema TP Rachmat Berbagi di kampus Universitas Atma Jata, Kamis (4/4/2013) siang.

Diskusi ini merupakan kerja sama Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) dan Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya. Hadir sebagai pembicara tungga pengusaha nasional Theodore Permadi Rachmat atau Teddy P Rachmat atau TP Rachmat.

TP Rachmat adalah mantan CEO Astra International, dan saat ini Wakil Presiden Komisaris Adaro, perusahaan tambang. Menurut Majalah Forbes, TP Rachmat merupakan orang terkaya Indonesia peringkat 16, tahun 2011.

Muliawan menegaskan, perusahaan Indonesia yang tidak siap sangat mungkin rontok, bila tak punya competitive advantage maupun tata kelola yang baik. Apalagi kalau perusahaan itu masih diliputi budaya korupsi.

Dalam hampir semua kasus korupsi besar, ada pengusaha yang terlibat di dalamnya. Hal ini menunjukkan masih lemahnya penerapan etika bisnis di banyak kalangan pengusaha Indonesia. "Bila kondisinya seperti ini, bukan tak mungkin kita akan menjadi korban, alih-alih mendapat benefit dari perkembangan ekonomi dunia," ujar Muliawan.

Halaman12
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Domu D. Ambarita
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas