Home »

Bisnis

»

Makro

Tips Bisnis Jepang

Sungguh Mengerikan, di Jepang Bunuh Diri Pun Jadi Bisnis

Hatarakute mo giri-giri na seikatsu. Imi ga arimasuka? Bekerja pun masih hidup pas-pasan, susah

Sungguh Mengerikan, di Jepang Bunuh Diri Pun Jadi Bisnis
IST
ILUSTRASI

Richard Susilo *)

TRIBUNNEWS.COM - Hatarakute mo giri-giri na seikatsu. Imi ga arimasuka? Bekerja pun masih hidup pas-pasan, susah. Apakah ada artinya kalau hidup demikian? Begitulah pemikiran yang banyak muncul di Jepang saat ini. Membuat mereka tambah stress dan akhirnya bunuh diri. Lebih baik tidak bekerja saja apabila bekerja saja masih susah. Kalau tidak bekerja, hidup masih bisa enak, tidur-tiduran, bebas,  tak buang uang, tak capek.

Tingkat bunuh diri di Jepang tertinggi di dunia. Sedikitnya 76 orang bunuh diri per hari di Jepang tahun 2012, sesuai data kepolisian Jepang. Bayi pun juga sudah sangat jarang saat ini. Tak heran Jepang sudah berbentuk pyramid terbalik, dalam arti, jauh lebih banyak orangtua (lansia)  ketimbang generasi mudanya. Mengapa? Karena bayi atau anak dianggap beban hidup di Jepang. Bukan seperti di Indonesia dianggap sebagai karunia dari Tuhan.

Bunuh diri di Jepang 25 persen karena rasa tanggungjawab di bidang keuangan, misalnya terbelit hutang besar. Empat direksi sebuah perusahaan bunuh diri di Tokyo karena perusahaannya terbelit hutang besar. Dengan bunuh diri mendapatkan asuransi, untuk membayar hutang perusahaan dan sisanya untuk keluarga mereka. Hutang dibayar dengan nyawa.

Kini setiap hari semakin banyak kasus kejahatan, pembunuhan, perkelahian kepada kekerasan dan bunuh diri. Bahkan seminggu sekali muncul kasus bunuh diri pelajar sekolah dengan gas beracun. Anak usia 14 tahun mengakhiri hidupnya dengan membuat gas beracun sendiri. Mengapa bisa mudah membuat dan melakukan demikian?

Saat ini unsur yang sangat berbahaya di Jepang adalah KGI, bukan KGB, dinas rahasia Uni Soviet (Rusia) di waktu lalu. KGI adalah Keitai (telepon genggam atau HP), Game, dan Internet. Dengan KGI di tangan seseorang, koneksi dunia dapat dilakukan dengan mudah berkat internet. Ponsel sudah lengket dalam diri manusia, game tak akan habis terus saja dimainkan sehingga lupa tugas kehidupan sehari-hari dan internet mengaitkan segala macam informasi dari yang terbaik sampai dengan terburuk. Kebanyakan yang terburuk paling populer dilihat, misalnya pornografi.

Berkat informasi sangat mudah didapat saat ini, anak kecil mulai sekolah dasar sampai dengan orang dewasa mudah mencari segala macam info tersebut. Bagaimana meracik gas beracun dengan mudah diperoleh di website Jepang, tentu dalam bahasa Jepang. Televisi yang menyiarkan bunuh diri memakai gas beracun sebagai booster, meningkatkan keinginan manusia yang stress untuk bunuh diri menggunakan cara yang sama karena dianggap lebih mudah dan enak dalam menghilangkan nyawanya sendiri, tidak menderita.

Itulah yang dilakukan anak muda yang bunuh diri saat ini. Tren bunuh diri pakai gas beracun. Akibatnya, sekeliling rumah, orang tak dikenal, jadi ikut korban. Ada yang koma, tak sadarkan diri dalam waktu lama, ada yang pingsan keracunan, dan sebagainya, terkena dampak gas beracun dari rumah atau kamar tetangga. Orang Jepang bilang, Meiwaku desu. Berarti, sangat menyusahkan orang lain.

Melihat kecenderungan bunuh diri yang masih tinggi di Jepang saat ini, bagi kalangan lain mungkin jadi kesempatan bisnis yang luar biasa bagus, terutama bidang jasa.

Menyediakan jasa pengiriman jenazah, menyediakan jasa pengurusan pemakaman, menyediakan jasa upacara kematian, menyediakan jasa pembuatan peti mati atau membuat pot abu jenazah, dan sebagainya. Di sinilah juga terkadang Yakuza terlibat karena bisnis kematian adalah bisnis menguntungkan di Jepang.

Halaman
12
Editor: Widiyabuana Slay
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help