• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 2 Oktober 2014
Tribunnews.com

Harga Karet Sulit Naik

Senin, 29 April 2013 22:34 WIB
Harga Karet Sulit Naik
Getah karet

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Nasib komoditi karet Sumatera Utara makin berfluktuasi pasca batalnya agenda pembahasan harga pada sidang The International Tripartite Rubber Council di Phuket, Thailand, beberapa waktu lalu.

Seperti diketahui, kesepakatan tiga negara produsen karet terbesar dunia yakni Thailand, Indonesia, dan Malaysia sebelumnya untuk memangkas pasok ekspor karet di pasar dunia yang berakhir Maret 2013.

Alih-alih mendapatkan kebijakan baru, pertemuan malah tidak berujung hasil positif dan membiarkan masing-masing negara membuat kebijakan sendiri untuk mendongkrak harga karetnya.

Seorang pengusaha karet dari Sumut, Wijaya, mengeluhkan tidak adanya keseragaman yang membuat eksportir untuk mengambil sikap dalam ekspor karet.

Sebagian eksportir, katanya, masih berupaya menahan ekspor karet sembari menunggu harga di pasar dunia cukup stabil. Namun, sebagian lagi justru terpaksa mengekspor untuk menambah suntikan modal perkebunan karetnya.

Ia mengatakan, sudah seharusnya Indonesia mengusulkan untuk tak melanjutkan program yang disebut agreed export tonnage scheme (AETS) itu dengan pertimbangan aliran dana (cash flow) pelaku usaha, khususnya eksportir, terganggu akibat menunda ekspor sejak Oktober 2012.

Ia mengeluhkan pertemuan tripartit yang hanya membahas pasar karet regional (regional rubber market), peran ITRC 10 tahun mendatang (future roles of ITRC for ten years), dan Komite Pemantauan dan Pengawasan (Surveillance and Monitoring Committee/SMC).

"Eksportir tampaknya sudah benar-benar pasrah dan menunggu. Bagi yang bermodal besar mungkin bisa menahan stok. Tapi kalau yang tidak, kan terpaksa kirim (ke luar negeri) dengan harga murah," katanya, Senin (29/4) di Medan.

Sebagaimana disepakati ketiga negara sebelumnya, komitmen AETS hanya berlaku selama enam bulan mulai Oktober 2012 dengan mengurangi ekspor sekitar 300 ribu ton. Indonesia mendapat jatah pemangkasan 117 ribu ton, Thailand 143 ribu ton dan Malaysia 43 ribu ton.

Sementara itu, dalam kontrak berjangka, harga karet alam memang sempat melaju ke level tertinggi dalam dua minggu terakhir yang didorong kenaikan harga minyak mentah global.

Data Bloomberg mencatat kontrak pengiriman Oktober di Tokyo Commodity Exchange (TOCM) naik 2,6 persen menjadi sekitar 2.679 dolar AS per ton. Harga ini merupakan level tertinggi untuk kontrak paling aktif sejak 15 April.
Adapun bursa berjangka Shanghai Futures Exchange mencatat harga karet pengiriman September naik 2,3 persen menjadi 3.171 dolar AS per ton.

Sekretaris Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) Sumut Edy Irwansyah, juga mengakui para anggotanya sementara menghentikan kegiatan ekspor karet menunggu kebijakan yang jelas dari kesepakatan tiga negara produsen karet dunia.

"Masih ada optimisme di kalangan pengusaha kalau harga akan membaik di tahun ini terutama jika ada kebijakan negara konsumen untuk kembali mendongkrak produksi industri ban," katanya.(ers)

Editor: sanusi
Sumber: Tribun Medan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1726262 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas