• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 25 April 2014
Tribunnews.com

Kenaikan BBM Pukul Pertumbuhan Ekonomi

Selasa, 30 April 2013 18:58 WIB
Kenaikan BBM Pukul Pertumbuhan Ekonomi
TRIBUN/DANY PERMANA
Pekerja memompa bahan bakar minyak subsidi di warung bensin eceran milik Syaiful, di Jalan Ulujami, Cipulir, Jakarta Selatan, Selasa (30/4/2013). Pemerintah berencana menghentikan subsidi untuk BBM pada Mei 2013 mendatang, sehingga diperkirakan akan menghemat APBN sebesar Rp 35-40 triliun untuk kenaikan harga BBM Rp 1500 per liternya. TRIBUNNEWS/DANY PERMANA 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) diprediksi akan menekan inflasi. Kebijakan ini akan memberikan kenaikan yang lebih tinggi jika dibandingkan mekanisme dua harga premium yang pernah direncanakan pemerintah.

Purbaya Yudisadewa, Ekonom Danareksa, mengatakan inflasi bisa mencapai 7 persen-8 persen sepanjang tahun ini. Jika ini terjadi, maka akan melebihi ekspektasi target inflasi Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2013 sebesar 5,9 persen pada akhir tahun ini.

"Target akan naik, maka kami pastikan akan adanya lonjakan inflasi di sepanjang tahun bisa sampai Mei 2014 baru kembali normal di angka 5 persen-6 persen," katanya, Selasa (30/4/2013).

Lonjakan ini akan memberikan tekanan terhadap pertumbuhan kredit perbankan dan ekonomi. Purbaya memprediksi bakal ada koreksi atas pertumbuhan ekonomi meskipun ia belum bisa mengatakannya secara pasti.

"Untuk pertumbuhan kredit perbankan ada pelambatan bisa di bawah 22 persen pertumbuhannya, namun saya belum bisa sebutkan jumlah penurunannya, pertumbuhan ekonomi juga bakal turun," katanya.

Disisi lain Yunita Rusanti, Direktur statistik Harga Badan Pusat Statistik (BPS), juga mengatakan bakal ada tekanan terhadap inflasi. Namun tekanan itu akan berlangsung selama beberapa bulan saja, setelah itu inflasi akan menurun dan kembali ke titik normal.

"Kami perkirakan hanya beberapa bulan saja setelah itu akan kembali, dan memang kita sudah melewati masa inflasi tertinggi pada April dan akan kembali ke titik normal," katanya.

Namun, ia mengingatkan sektor yang berdekatan dengan transportasi dan sektor lainnya seperti komoditas ataupun sektor pangan akan naik seiring dengan biaya produksi yang tinggi. Kedua sektor ini akan menaik seiring dengan tingginya inflasi yang terjadi karena kenaikan BBM.

"Perhatikan sektor yang berhubungan dengan BBM, terutama sektor transportasi ataupun yang biaya produksinya banyak membutuhkan BBM, kami perkirakan sektor-sektor tersebut yang akan menjadi penyumbang inflasi terbesar," ujarnya.

Ekspektasi atas dampak penurunan BBM juga dirasakan beberapa industri perbankan seperti Bank BCA yang menurunkan target pertumbuhan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) yang mencapai 30 persen pada tahun ini. Target ini di bawah pertumbuhan kredit KPR pada tahun sebelumnya yang mencapai 50 persen.

Penulis: arif wicaksono
Editor: sanusi
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1729941 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas