Sabtu, 22 November 2014
Tribunnews.com

Pengusaha Terompet Pernah Dianggap Pengemis

Selasa, 30 April 2013 16:30 WIB

Pengusaha Terompet Pernah Dianggap Pengemis
SERAMBI INDONESIA/BUDI FATRIA
ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Medan, Arifin Al Alamudi

TRIBUNNEWS.COM, MEDAN - Kisah Riki Toreh dan ayahnya Zul Toreh merintis industri barang bekas tentu tak semudah yang dipikirkan. Banyak tantangan dan berulang kali mengalami kegagalan.

Dari semua kisah sulit itu, Zul Toreh bercerita ia pernah dianggap sebagai pengemis dan diberikan uang receh oleh orang. Itu terjadi sembilan tahun lalu, saat baru memulai belajar membuat terompet dari botol minuman bekas.

Kala itu ia datang ke Medan untuk membeli beberapa keperluan membuat terompet ke toko elektronik di Jalan Cirebon. Saat memasuki toko, Zul yang mengenakan tongkat karena kecelakaan tahun 90-an, tiba-tiba diberikan uang receh oleh pemilik toko.

Ia terkejut dan mengembalikan uang tersebut sambil mengatakan bahwa ia datang untuk membeli bukan mengemis. Pemilik toko pun balik terkejut dan menanyakan barang apa yang ingin dibeli Zul dan untuk keperluan apa.

Zul Toreh menjelaskan ingin membeli beberapa peralatan untuk membuat terompet dari barang bekas. Sontak si pemilik toko tertarik dan menawarkan untuk meminjamkan modal kepada Zul.

Hingga kini kerja sama keduanya masih terjalin. Pernak-pernik Natal, Tahun Baru, dan Lebaran hasil karya Zul Toreh hingga kini terus dijual di toko elektronik tersebut.

Empat tahun berselang, Zul yang kakinya tak kunjung sembuh walaupun sudah operasi berkali-kali memutuskaan pensiun dini dari TNI. Karena bekerja dengan kondisi kaki yang tidak normal dan menggunakan tongkat ke mana-mana bukanlah hal yang nyaman.

Ia memilih fokus membangun usahanya pengolahan barang bekas bersama anaknya, Riki Toreh, yang pada waktu itu juga baru lulus sarjana dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Meski lulusan kampus ternama di Indonesia, Riki tak malu membantu orangtuanya meneruskan keberlangsungan Limbah Karya Mandiri. Bahkan ia yang memimpin usaha keluarganya dengan menjdi Marketing Manager.

Sejak saat itulah penjualan pernak-pernik barang bekas keluarga Toreh berkembang pesat. Jenis pernak-pernik yang dihasilkanpun semakin beragam. Manajemen pemasaran barang-barang hasil produksi mereka mulai tertata baik dan menjalin kerja sama dengan pihak lain.

Prisnsip produk harus beda dari lainnya menjadi pegangan dan akhirnya menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli. Itulah yang memicu permintaan produk keluarga Toreh terus meningkat.

"Intinya ide produk kita nggak pernah nyontek produk lain, datang begitu aja. Semua barang bekas kita coba olah. Kalau kurang bagus kita perbaiki dan perbaiki terus agar menarik dan laku dijual," jelas Zul yang duduk di kursi sambil menunjukkan satu dari beberapa hiasan dinding hasil buatannya.

Meski keluarga Zul Toreh kini sudah mapan dari industri rumah tangga, bahkan sudah digolongkan sebagai jutawan, keluarga ini tetap tampil bersahaja.

Zul ke mana-mana tetap menggunakan kaos oblong, celana pendek, dan berjalan dengan bantuan dua tongkat. Pria yang sudah mulai beruban ini berprinsip meski ia harus berjalan dengan tongkat sudah hampir 20 tahun, namun itu tak bisa membendung semangatnya untuk berkreasi.

"Nggak ada barang bekas yang nggak berguna, semua bisa kita gunakan dan di daur ulang jadi berguna," ungkapnya.

Editor: sanusi
Sumber: Tribun Medan

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas