• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 April 2014
Tribunnews.com

Pekanbaru dan Dumai Alami Inflasi

Kamis, 2 Mei 2013 07:32 WIB
Pekanbaru dan Dumai Alami Inflasi
ilustrasi

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru Afrizal

TRIBUNNEWS.COM, PEKANBARU - Meski secara nasional Indonesia mengalami deflasi selama April 2013 lalu, namun dua kota di Riau mengalami hal sebaiknya. Kenaikan komoditas bawang merah menjadi penyebab inflasi di Pekanbaru dan Dumai.

Bawang merah menjadi komoditi penyumbang inflasi tertinggi di Pekanbaru April 2013. Diantara 10 komoditi yang memberi andil inflasi, bawang merah berada di tingkat paling tinggi mencapai 0.26 persen. Padahal komoditi lainnya yang setingkat di bawah bawang merah yaitu sewa rumah, andil inflasinya hanya 0.09 persen.

Menurut Kepala BPS Riau, Mawardi Arsyad, April lalu, tingkat inflasi di Pekanbaru mencapai 0.34 persen. Angka ini disebabkan adanya peningkatan indeks harga pada kelompok bahan makanan yang mencapai 0.86 persen dan makanan jadi 0.61 persen. Kelompok lainnya seperti perumahan dan kesehatan, berada jauh di bawah yaitu 0.47 persen dan 0.07 persen saja.

Andil inflasi bawang merah ini memang jauh lebih tinggi dibandingkan komodti lainnya. Delapan komoditi penyumbang inflasi lainnya hanya berkisar antara 0.02 persen hingga 0.05 persen. Nasi bungkus, menyumbang 0.05 persen dan serai 0.03 persen. Sisanya seperti jeruk, the manis, rokok kretek dan filter, rokok putih serta wortel, masing-masing andil 0.02 persen.

"Tingkat inflasi di Pekanbaru ini menduduki urutan keenam dari dari  16 kota Sumatera yang menghitung indek harga konsumen," katanya.

Meskipun inflasi, sejumlah komoditi di Pekanbaru juga ada yang turun harga. Harga paling tinggi atau mengalami inflasi negatif adalah emas sebanyak 0.11 persen. Disusul telur ayam ras mencapai 0.05 persen. Sementara itu bawang putih yang sempat sulit beberapa waktu lalu, saat ini justru deflasi 0.03 persen, sama halnya dnegan beras.

Selain Pekanbaru, Dumai juga mengalami inflasi serupa, meskipun angkanya lebih rendah. Kota di pesisir Riau ini hanya mengalami inflasi 0.17 persen. Angka ini lebih disebabkan pada peningkatan kelompok makanan jadi yang mencapai 1.01 persen dan bahan makanan 0.24 persen. Setelah itu disusul transpor 0.05 persen serta kelompok pendidikan 0.02 persen.

Dilihat dari segi komoditas, penyumbang inflasi di daerah ini adalah ketupat atau lontong sayur. Makanan jadi yang umum disantap sebagai sarapan pagi ini memiliki andil inflasi 0.21 persen. Sementara itu, bawang merah yang menyumbangkan inflasi tertinggi di Pekanbaru, di Dumai hanya menempati urutan kedua. Andilnya pun cukup rendah yaitu 0.08 persen, disusul bayam 0.07 persen dan apel 0.06 persen.

Inflasi di dua kota tersebut berlaku umum. Pasalnya dair 16 kota di Sumatera, sebanyak 13 kota diantaranya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Padang Sidempuan yang mencapai 0.81 persen dan terendah du palembang 0.04 persen. Sementara tiga kota lainnya mengalami deflasi yaitu Bandar Lampung 0.48 persen, Jambi 0.08 persen dan Tanjung Pinang 0.01 persen. (riz)

Editor: Hendra Gunawan
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
1735701 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI KOMENTAR SAYA
Atas