Sabtu, 29 November 2014
Tribunnews.com

Harga Karet di Jambi Naik Rp 1.000 per Kg

Selasa, 14 Mei 2013 10:45 WIB

Harga Karet di Jambi Naik Rp 1.000 per Kg
kontan
kebun karet

Laporan wartawan Tribun Jambi, Hendri Dede Putra

TRIBUNNEWS.COM, JAMBI - Saat ini Disperindag Provinsi Jambi mencatat, harga karet mulai mengalami kenaikan Rp 1.000 per kilogram (kg), menjadi Rp 21 ribu per kg.

Chuliardi, Ketua Gapkindo Jambi, mengatakan sebelumnya harga karet sempat turun hingga Rp 19 ribu per kg (karet kering kualitas Singapura). "Cina yang merupakan 45 persen (tujuan) ekspor karet sudah mulai membeli, kemarin memang memperlambat pembelian," ujar pria yang baru menjadi Ketua Gapkindo ini.

Hatta Arifin, Sekretaris Gapkindo Jambi, mengatakan faktor lain penyebab merangkaknya harga karet disebabkan produksi karet di Asia secara umum menurun. Utamanya berkurangnya stok di Thailand. Sehingga, kata dia, kesempatan bagi Indonesia serta Jambi meningkatkan ekspor.

"Karena sedang mengalami musim hujan, menyebabkan kurang panen, jadi stok mereka kurang," katanya mengenai melemahnya produksi Thailand.

Hatta membantah isu yang mengatakan adanya mafia dalam harga karet, karena katanya harga karet dunia ditentukan oleh bursa dinegara Jepang dan Singapura atau Tokyo community (Tocom) dan secom (Singapure Community). Lanjutnya, yang membuat perbedaan harga karet di tingkat petani itu ada mulai dari tingkat pengumpul dan pabrik.

Dia mencontohkan jika dari ketetapan harga karet Rp 21 ribu per kg. Sementara pabrik pengolahan tukang giling mengambil 50 persen dari harga karet dunia. Jadi tinggal 50 persen sudah tingkat pabrik. Dari 50 persen itu biaya full lelang (yang beli) kemudian biaya dari pedagang pengumpul, baru ke petani karet. Ini ketentuan dari harga negara Tocom dan Sekom tadi.

"Misalkan dua lembaga ini masing-masing mengambil seribu tinggallah Rp 8 ribu per kg. Dari Rp 8 ribu ini dilihat lagi kadar kotor karet, nah inilah harga di tingkat petani, yang dilihat kualitas karetnya," tegasnya.

Gapkindo memproyeksikan ke depan potensi karet di Jambi masih besar, apalagi Disbun berperan baik sesuai planning. Terutama tidak ada lagi tebang pohon karet untuk diganti dengan sawit.

Editor: sanusi
Sumber: Tribun Jambi

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas