Kamis, 27 November 2014
Tribunnews.com

Stok Daging Sapi di Pekanbaru Aman

Senin, 8 Juli 2013 10:38 WIB

Stok Daging Sapi di Pekanbaru Aman
KOMPAS/PRIYOMBODO
Pedagang daging sapi membersihkan lapak jualannya di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Rabu (10/4/2013). Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan sejumlah kejanggalan terkait impor daging sapi yang dilakukan pemerintah.

Laporan Wartawan Tribun Pekanbaru, Nolpitos Hendri

TRIBUNNEWS.COM, PEKANBARU - Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Pekanbaru, Sentot D Prayitno mengatakan, menjelang Ramadan kebutuhan daging sapi di masyarakat Pekanbaru meningkat tajam.

Untuk itu, Distanak menyediakan sebanyak 335 ton daging sapi dan mengantisipasi beredarnya daging gelonggongan.

“Untuk mengantisipasi beredarnya daging gelonggongan dan berpenyakit di pasar, kami memantau mulai dari rumah potong. Kemudian, kami juga menyediakan stok daging hingga 335 ton" katanya.

Atas kondisi ini, Distanak menjamin bahwa seluruh daging yang diedarkan di pasar-pasar tradisional, sudah bebas penyakit dan bebas dari daging gelonggongan.

Jadi, daging gelonggongan di Pekanbaru tidak ada, demikian juga dengan daging yang mengandung penyakit kuku sapi. Kami terus melakukan pengawasan dan pemantauan di lapangan, mulai dari pintu masuk hingga ke lokasi pemotongan.

“Semua stok dan kondisi peredaran daging sapi di pasar-pasar Pekanbaru terkendali, karena semua daging yang beredar di Pekanbaru sejauh ini dipotong di rumah potong hewan. Tidak ada yang dipotong di luar rumah potong hewan, karena itu tidak dibenarkan. Jadi, semua di bawah pengawasan kami saat pemotongan," jelas Sentot.

Menurut Sentot, pihaknya akan melakukan beberapa tahap pengawasan untuk seekor sapi sebelum siap di pasarkan di pasar tradisional. Pertama, seekor sapi akan diperiksa Antem Mortemnya sebelum di lakukan pemotongan. Dalam pemeriksaan ini sapi dipastikan keberadaan surat-surat pendukungnya yang menyatakan bahwa sapi sumbernya jelas.

“Kemudian, tahapan pemeriksaan selanjutnya adalah ketika sapi sudah dipotong di rumah potong. Oleh dokter hewan, akan dicek apakah daging sapi ini sehat dan tidak mengandung berbagai penyakit, baik antrak, cacing hati dan sebagainya. Jadi, kami jamin prosesnya aman karena melewati beberapa pengawasan. Kalau sebelum dipotong di periksa antem mortemnya, setelah dipotong diperiksa pos mortem oleh dokter hewan,” ujar Sentot.

Mengenai kebutuhan pokok lainnya, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pekanbaru, Elsyabrina kepada Tribun menyebutkan, menjelang masuknya bulan suci Ramadan, pihaknya telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke gudang sembilan barang pokok (sembako), guna memantau ketersediaan stok dan harga. Terutama ke gudang beras dari Sumsel dan Sumbar, Sumut, Jawa, Sulsel.

Hasilnya, beras dari Sumsel dan Sumbar naik, sedangkan dari Sumut, Jawa, dan Sulsel harganya tetap. Sedangkan pantauan di pasar, harga gula pasir naik Rp 500, ayam potong naik Rp 2.000 yakni dari Rp 23 ribu naik ke 25 ribu.

Komoditas kacang tanah turun Rp 2.000 dari rp 20 ribu ke Rp 18 ribu per kilogram, begitu juga tomat dan wortel. Akan tetapi, harga bawang merah naik Rp 14 ribu yakni dari Rp 30 ribu naik ke Rp 44 ribu, cabe naik Rp 6 ribu dari Rp 34 ribu ke Rp 40 ribu. Kenaikan ini bukan karena BBM, namun disebabkan jumlah produktivitas.

Pada saat Ramadan, pihaknya akan melakukan pemantauan jajanan berbuka pada saat bulan Ramadan, dan akan dimulai pada minggu pertama Ramadan.

Pada minggu pertama Ramadan, akan muncul industri rumah tangga yang memproduksi jajanan berbuka. Mereka ini dikhawatirkan menggunakan bahan yang tidak boleh dikomsumsi manusia.

"Maka, kami akan lakukan sidak bersama dengan BPOM, dan BPOM akan membawa laboratorium mobil, sehingga diketahui ada atau tidaknya bahan berbahaya itu pada jajanan berbuka,” jelas Elsybarina.

Editor: sanusi

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas