Selasa, 5 Mei 2015
Tribunnews.com

Apa Sebab Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah?

Selasa, 23 Juli 2013 16:40 WIB

Apa Sebab Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah?
Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan
Penukaran Uang: Agus menjual uang pecahan kertas baru di jalan Pahlawan, Kota Semarang, Jateng, Jumat (19/7/2013). Uang pecahan Rp 2000, Rp 5000, Rp 10.000 dan Rp 20.000 dengan total nominal Rp 100 ribu ini dijual Rp 105 ribu hingga Rp 110 ribu. Pada Lebaran 1434 H ini, Bank Indonesia Wilayah V Jateng-DIY Yogyakarta nilai tukar uang mencapai Rp 2,5 Miliar. (Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dollar AS. Beberapa faktor dari global dan domestik turut memberikan kontribusi penurunan mata uang Indonesia tersebut.

Destry Damayanti, Ekonom Bank Mandiri, mengatakan dari sisi global, pelemahan nilai tukar rupiah dipicu oleh pembalikan dana asing (capital reversal). Ekonomi global yang belum pulih membuat investor menukarkan produk investasinya ke jenis investasi dengan risiko paling aman, yaitu dollar AS.

"Sementara dari sisi domestik, memang sedang ada kebutuhan dollar AS yang cukup besar baik untuk membayar impor hingga membayar utang pemerintah maupun utang swasta," kata Destry seperti dilansir Tribunnews dari Kompas.com, Selasa (23/7/2013).

Destry menambahkan, dari sisi importir, mereka sesungguhnya masih belum rela melepas dollar AS yang dipegangnya. Harapannya, dollar AS akan terus menguat dan importir ini akan terus untung.

Para importir ini, kata Destry, masih menunggu kepastian ekonomi global sehingga importir tersebut akan melepas dollar AS ke pasar jika ekonomi globalnya memburuk. Namun dari sisi eksportir, tentunya mengharapkan rupiah bisa kembali menguat. Tapi bila kondisi perekonomian masih melambat seperti ini, eksportir pun akan menunda bisnisnya.

"Dalam jangka pendek, rupiah ini memang masih mencari keseimbangan baru," katanya.

Solusinya, pemerintah harus bantu membantu mengatasi masalah fundamental dalam negeri. Misalnya inflasi yang dikhawatirkan melonjak, khususnya selepas kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi. Tentunya, kata Destry, investor masih menunggu bauran kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menuntaskan masalah inflasi ini.

Halaman12
Editor: sanusi
Sumber: Kompas.com
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas