• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 23 September 2014
Tribunnews.com

Apa Sebab Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah?

Selasa, 23 Juli 2013 16:40 WIB
Apa Sebab Nilai Tukar Rupiah Terus Melemah?
Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan
Penukaran Uang: Agus menjual uang pecahan kertas baru di jalan Pahlawan, Kota Semarang, Jateng, Jumat (19/7/2013). Uang pecahan Rp 2000, Rp 5000, Rp 10.000 dan Rp 20.000 dengan total nominal Rp 100 ribu ini dijual Rp 105 ribu hingga Rp 110 ribu. Pada Lebaran 1434 H ini, Bank Indonesia Wilayah V Jateng-DIY Yogyakarta nilai tukar uang mencapai Rp 2,5 Miliar. (Tribun Jateng/Wahyu Sulistiyawan) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terus mengalami pelemahan terhadap dollar AS. Beberapa faktor dari global dan domestik turut memberikan kontribusi penurunan mata uang Indonesia tersebut.

Destry Damayanti, Ekonom Bank Mandiri, mengatakan dari sisi global, pelemahan nilai tukar rupiah dipicu oleh pembalikan dana asing (capital reversal). Ekonomi global yang belum pulih membuat investor menukarkan produk investasinya ke jenis investasi dengan risiko paling aman, yaitu dollar AS.

"Sementara dari sisi domestik, memang sedang ada kebutuhan dollar AS yang cukup besar baik untuk membayar impor hingga membayar utang pemerintah maupun utang swasta," kata Destry seperti dilansir Tribunnews dari Kompas.com, Selasa (23/7/2013).

Destry menambahkan, dari sisi importir, mereka sesungguhnya masih belum rela melepas dollar AS yang dipegangnya. Harapannya, dollar AS akan terus menguat dan importir ini akan terus untung.

Para importir ini, kata Destry, masih menunggu kepastian ekonomi global sehingga importir tersebut akan melepas dollar AS ke pasar jika ekonomi globalnya memburuk. Namun dari sisi eksportir, tentunya mengharapkan rupiah bisa kembali menguat. Tapi bila kondisi perekonomian masih melambat seperti ini, eksportir pun akan menunda bisnisnya.

"Dalam jangka pendek, rupiah ini memang masih mencari keseimbangan baru," katanya.

Solusinya, pemerintah harus bantu membantu mengatasi masalah fundamental dalam negeri. Misalnya inflasi yang dikhawatirkan melonjak, khususnya selepas kebijakan kenaikan harga BBM bersubsidi. Tentunya, kata Destry, investor masih menunggu bauran kebijakan Bank Indonesia (BI) untuk menuntaskan masalah inflasi ini.

Bagaimanapun, risiko inflasi ini membuyarkan imbal hasil beragam produk investasi yang ada di tanah air. Inflasi yang melonjak ini juga turut menurunkan pertumbuhan ekonomi karena sebagian besar kontribusinya masih ditopang dari konsumsi domestik dan investasi.

"Jika risiko inflasi tinggi, maka daya konsumsi masyarakat juga menurun. Ini juga yang menyebabkan penurunan pertumbuhan ekonomi. Investor asing juga masih pikir-pikir untuk investasi di Indonesia jika inflasinya tinggi," jelasnya.

Sementara dari sisi eksternal, investor asing memang masih mengalami liburan (summer holiday) sehingga mereka tidak mengambil posisi untuk berinvestasi di dalam negeri. "Asing akan kembali masuk sekitar September, sambil menunggu kebijakan pemerintah dalam mengatasi risiko inflasi," jelasnya.

Berdasarkan kurs tengah BI, nilai tukar rupiah hingga saat ini berada di level Rp 10.222 per dollar AS, melemah dibanding perdagangan kemarin di level Rp 10.068 per dollar AS. Sementara akhir pekan lalu, rupiah bergerak di leve Rp 10.070 per dollar AS.(Didik Purwanto/Kompas.com)

Editor: sanusi
Sumber: Kompas.com
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
2068631 articles 0 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
    Jadilah yang pertama memberikan komentar
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas