Home »

Bisnis

»

Makro

Penipuan Calon Pilot

Sudah Dua Sekolah Pilot Ditutup

Kepada orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya menjadi pilot, diperingatkan agar hati-hati dalam memilih sekolah penerbang.

Sudah Dua Sekolah Pilot Ditutup
Puspen TNI
Ilustrasi: Wakasau Marsdya TNI Sunaryo pada peresmian Sekolah Penerbang Dirgantara Pilot School Tasikmalaya (DPST) di Lanud Wiriadinata Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (6/7/2013). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kepada orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya menjadi pilot, diperingatkan agar hati-hati dalam memilih sekolah penerbang. Karena kalau salah pilih bisa-bisa uang ratusan juga melayang.

Sekolah penerbang abal-abal tidak hanya di Filipina saja yaitu Aviatour yang telah menipu sediukitnya 91 calon pilot asal Indonesia. Di dalam negeri, otoritas penerbangan RI telah menutup dua sekolah penerbangan. Penutupan dilakukan karena sekolah tersebut melakukan penipuan terhadap para siswanya.

Presiden Ferderasi Pilot Indonesia (FPI) Capt Hasfrinsyah mengatakan,  dua sekolah itu terindikasi melakukan penipuan terhadap para siswanya. Yaitu mengutip biaya sekolah, namun tidak mendidik para tarunanya hingga lulus menjadi pilot pesawat.

"Namanya tidak usah disebutkanlah. Tetapi yang jelas banyak siswa yang tertipu dan mereka melaporkannya ke pihak berwenang. Saat ini para pengelolanya pun telah menjadi buronan polisi dan telah masuk daftar blacklist di dunia penerbangan," ujar Hasfrinsyah kepada Tribunnews.com, Senin (26/8/2013).

Saat ini di Indonesia ada 18 sekolah pilot yang diawasi oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Perhubungan dan Federasi Pilot Indonesia. Kerja sama antara pemerintah dan federasi antara lain mencakup pengawasan kualitas sekolah penerbangan, termasuk kurikulum. Dari 18 sekolah tersebut, dua diantaranya adalah sekolah milik pemerintah yaitu STPI (Tangerang)  dan ATKP (Banyuwangi).

"Sebaiknya jangan terpancing dengan biaya murah dan cepat selesai, tetapi lebih baik tanyakan dulu ke Kementerian Perhubungan dalam hal ini DKUPPU (Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara) atau ke FPI," ujarnya.

Dijelaskannya, saat ini banyak lembaga yang mengaku bisa menyekolahkan siswa dan mengirimnya untuk pendidikan penerbangan ke luar negeri, namun pada kenyataannya lembaga tersebut hanyalah calo saja. Mereka menjanjikan untuk mendidik para calon penerbang, akan tetapi kemudian mengirim ke sekolah penerbang di luar negeri yang belum tentu berkualitas.

Penulis: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help