Jangan Beli Properti yang Belum Dibangun

Konsumen sebaiknya tidak tegiur janji-janji manis pengembang yang menawarkan diskon harga besar-besaran.

Jangan Beli Properti yang Belum Dibangun
Kompas Images
Konsumen M-Icon menggelar tabur bunga di proyek apartemen tersebut di Jalan Kaliurang Km 11 Ngaglik, Sleman, Yogyakarta 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Kasus dugaan penipuan yang dilakukan pengembang, PT Majestic Land, terhadap konsumen apartemen dan kondotel M-Icon, di Sleman, Yogyakarta, bukanlah yang pertama.

Sebelumnya, banyak terjadi kasus-kasus seperti ini di beberapa kota di Indonesia. Dua di antaranya yang menarik perhatian publik adalah kasus yang melibatkan PT Bukit Sentul Tbk dengan konsumen Bukit Sentul dan PT Mitra Safir Sejahtera (MSS) dengan konsumen Kemanggisan Residences.

Terkait hal itu, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo, menyarankan kepada konsumen agar memperhatikan aspek legalitas pengembang, pembebasan da penguasaan lahan, perizinan prinsip, dan perizinan teknis sebelum memutuskan membeli properti.

Selain itu, konsumen sebaiknya tidak tegiur janji-janji manis pengembang yang menawarkan diskon harga besar-besaran, pemberian barang, atau kemudahan pembayaran (cicilan dan tunai bertahap tanpa bunga).

Karena termakan gimmick itu, konsumen mau membayar sejumlah uang begitu saja, sementara pengembang belum tentu telah memenuhi kewajiban membebaskan dan menguasai lahan, atau memenuhi perizinan untuk membangun properti.

Alih-alih mendapatkan rumah yang diidamkan, konsumen malah merugi kemudian. Uang kadung dibayarkan, tetapi properti tak kunjung dibangun.

"Karena itu, konsumen sebaiknya jangan membeli properti yang belum dibangun, seperti kasus M-Icon di Yogyakarta ini," cetus Sudaryatmo, Sabtu (6/2/2016).

Regulasi baru

Mencermati banyaknya kasus yang melibatkan pengembang dan konsumen menurut Presiden Direktur Keller Williams Indonesia Tony Eddy, sudah saatnya pemerintah meregulasi tata cara pembelian properti terutama di pasar perdana (primary market).

Ii harus dilakukan, kata Tony, karena banyak pembeli yang tertipu dengan janji dan bujuk rayu pengembag serta agen properti nakal.

Halaman
12
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help