Presiden Direktur Pertagas Hendra Jaya Angkat Bicara

Hendra Jaya menolak mengomentari rencana holdingisasi tersebut.

Presiden Direktur Pertagas Hendra Jaya Angkat Bicara
nur ichsan/warta kota/nur ichsan
BINAAN PERTAMINA GAS - Presdir PT Pertamina Gas, Hendra Jaya (kanan) didampingi Pendiri Yayasan PPPA Daarul Quran, Ustaz Yusuf Mansur (kiri), meresmikan berdirinya Pesantren Tahfidz Daarul Quran cabang Karawang, Jawa Barat, Senin (20/6) malam. Pondok Pesantren yang berada di bawah binaan Badan Dakwah Islam PT Pertamina Gas, ini akan menjadi tempat pelatihan para guru tahfidz quran yang akan dikirim ke seluruh pelosok pedesaan di tanah air. WARTA KOTA/Nur Ichsan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Meskipun sempat dikabarkan “dicopot” dari jabatannya sebagai Presiden Direktur Pertagas, Hendra Jaya merasa tidak perlu melakukan klarifikasi atas judul-judul berita tersebut.

Meski telah diberikatan cukup santer dan akhirnya dikonfirmasi bahwa yang bersangkutan tidak benar telah dicopot, melainkan memang telah berakhir masa tugas dan menunggu keputusan RUPS Pertagas.

Ketika dikonfirmasi, apakah Hendra Jaya hendak melakukan klarifikasi atas pemberitaan tersebut, Hendra menanggapi kalem. “Saya kira tanpa saya klarifikasi, berita lain sudah mengkonfirmasi dan meluruskan perkara tersebut, saya rasa cukup,” kata Hendra dalam keterangannya, Jumat (9/9/2016).

Selama kepemimpinannya selama tiga tahun, atau satu periode masa kerja Presiden Direktur Pertagas, dibawah kepempimpinannya Pertagas tercatat sebagai anak perusahaan Pertamina yang paling tinggi memberikan keuntungan bagi Induknya yakni Pertamina.

Banyak tudingan miring yang menyebut bahwa kelangkaan dan mahalnya harga gas dipasaran salah satu penyebabnya adalah ketidakpaduan antara kerja Perusahaan Gas Negara (PGN) dan Pertagas, Hendra Jaya enggan memberikan komentar mengenai hal tersebut.

"Saya ini Presdir Pertagas, tugas saya menjalankan perusahaan dan memberikan profit kepada karyawan dan juga Pertamina sebagai induk, soal perusahaan lain bukan wewenang saya untuk memberikan penilaian," katanya.

Seperti diketahui, semakin santer pemberitaan mengenai rencana penyatuan antara Pertagas dan PGN. Namun yang mengemuka adalah Pertagas akan diakuisisi dibawah PGN.

Hendra Jaya menolak mengomentari rencana holdingisasi tersebut.

"Sekali lagi tugas saya adalah di Pertagas, holdingisasi itu kebijakan yang lebih tinggi, saya tidak punya preferensi untuk memberikan penilaian, saya bekerja sesuai mandat saya saja,” katanya.

Mengenai prestasinya menakhodai Pertagas, Hendra Jaya menyebutkan. “Itu semua kerja tim, hasil keringat kawan-kawan di PERTAGAS, juga arahan yang jelas dari Induk perusahaan PERTAMINA dan kementerian BUMN. Jadi saya hanya menjalankan tugas, jika ada yang kurang baik, itu tentu karena saya kurang maksimal, intinya saya hanya ingin bekerja dan dipercaya penuh. Ini hajat hidup orang banyak.”

Beberapa penghargaan prestisius didapatkan oleh Pertagas selama kepemimpinan Hendra Jaya, Gold Awards dalam hal Quality Control di Internatinal Convention on Quality Control Circle (ICQCC) pada Oktober 2014 di Jepang, Platinum Awards di tahun yang sama pada Temu Karya Mutu dan Produktivitas Nasional (TKMPN) tahun 2014 di Batam, Satyalencana Wirakarya dari Presiden Jokowi pada Juli 2015, dan Patra Nirbhaya Karya Utama Adinugraha untuk PT Pertagas Operasi Wilayah Barat dan Timur atas pencapaian 20 juta lebih jam kerja tanpa kecelakaan kerja.

Meski demikian Hendra Jaya tetap menyatakan belum puas dan belum maksimal.

"Harusnya bisa lebih baik lagi, bekerja lebih keras lagi," katanya.

Editor: Hasanudin Aco
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved