Pertamina Gandeng YLKI untuk Pastikan Takaran dan Kualitas Layanan SPBU

YLKI dan Pertamina akan melakukan uji petik terhadap 50 stasiun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum

Pertamina Gandeng YLKI untuk Pastikan Takaran dan Kualitas Layanan SPBU
TRIBUN TIMUR/RASNI GANI
Suansana SPBU 74.901.10 Jl Sultan Hasanuddin, Makassar 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) bersama PT Pertamina (Persero) akan melakukan uji petik terhadap 50 stasiun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pertamina atau 10 persen dari total SPBU di Jabodetabek untuk meyakinkan publik terhadap performa dan keakuratan SPBU.

Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI, mengatakan uji petik tersebut tidak hanya menguji keakuratan takaran, tapi juga mengevaluasi seluruh pelayanan SPBU, termasuk toilet dan mushola.

“Uji petik ini bertujuan agar publik terlibat dalam pengawasan SPBU yang notabene adalah public services,” ujar Tulus.

Menurut Tulus, dari sisi performa secara umum sudah ada perubahan secara signifikan pelayanan SPBU Pertamina. YLKI menilai sejauh ini performa fisik SPBU sudah ada perubahan dari sisi infrastruktur dan SDM.

“Dari sisi keakuratan takaran juga sudah mengalami perubahan kendati masih harus terus ditingkatkan untuk pelayanannya kepada konsumen," katanya.

Menurut Tulus, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap SPBU masih dominan ke SPBU Pertamina. Hanya sebagian kecil masyarakat yang mampir ke SPBU asing. Selain faktor harga, ada faktor nasionalisme dari masyarakat untuk memilih SPBU yang masih berbendera merah putih.

"Contoh ada sentimen ke beberapa SPBU Malaysia yang saya lihat justru tutup karena tidak ada konsumennya atau berkurang," tukas dia.

Johan Taruma Jaya, Kepala Divisi Unit Pelaksana Teknis Metrologi Jakarta, menambahkan upaya pengawasan terhadap SPBU terus dilakukan secara ketat. Badan Metrologi bahkan terus berinovasi melakukan berbagai pengujian untuk SPBU.

“Selain ada tim pengawasan khusus, dan Pertamina secara internal juga mewajibkan SPBU melakukan pengujian setiap hari, bahkan ada pengawas eksternal yang bekerja sama dengan konsultan,” katanya.

Badan Meterologi juga melakukan monitoring satu hingga dua kali dalam setahun. Bahkan tim pengawasan akan diturunkan ke SPBU, apabila ada keraguan karena tiap hari sebenarnya diuji oleh staf SPBU. "Jika terasa lebih atau kurang jauh, ini harus di tera. SPBU bisa mengontak kami dan mengajukan pemeriksaan, misalkan baru tiga bulan dipakai tapi kami ragu, kami periksa langsung," katanya.

Wianda Pusponegoro, Vice President Corporate Communication Pertamina, saat dikonfirmasi mengatakan Pertamina memastikan takaran BBM di SPBU di bawah pengelolaan perusahaan telah akurat karena melalui prosedur pemeriksaan yang ketat baik oleh internal perusahaan, Badan Metrologi, dan pemeriksa independen.

Semua meteran pada dispenser SPBU Pertamina telah ditera oleh Balai Metrologi dan selalu diperiksa akurasinya secara berkala.

Menurut Wianda, di era kompetisi dan kesadaran konsumen seperti ini bukan waktunya Pertamina bermain-main dengan standar takaran yang berlaku.

Pertamina justru memastikan dengan berbagai SOP agar terpenuhi berbagai standar takaran maupun volume dan kualitas BBM dengan baik agar dapat memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

“Pertamina terbuka terhadap masukan konsumen dan semua pihak terkait dengan kualitas layanan dan kuantitas ukuran. Bagaimanapun di era persaingan bebas seperti saat ini masyarakat bisa memilih mana yang terbaik sehingga Pertamina dituntut untuk lebih meningkatkan layanannya,” katanya.

Editor: Sanusi
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help