Potensi Ekonomi Sagu-Jelutung Tak Bisa Tandingi Sawit

Potensi tanaman sagu dan jelutung secara ekonomi tak akan mampu menandingi kelapa sawit

Potensi Ekonomi Sagu-Jelutung Tak Bisa Tandingi Sawit
KOMPAS.com/ESTU SURYOWATI
Pohon Sagu 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Potensi tanaman sagu dan jelutung secara ekonomi tak akan mampu menandingi kelapa sawit apabila tanaman tersebut sama-sama dibudidayakan di lahan gambut.

Oleh karena itu, Badan Restorasi Gambut (BRG) diminta tidak mengarahkan petani untuk menanam sagu dan jelutung di lahan gambut.

“Jelutung maupun sagu memang cocok ditanam di lahan gambut, tetapi potensi ekonominya tetap jauh di bawah sawit. Jadi kebijakan BRG itu perlu dipertanyakan, karena baik jelutung maupun sagu itu secara ekonomi tidak feasible,” ujar Guru Besar Ilmu Tanah Universitas Sumatera Utara, Abdul Rauf di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, dalam merumuskan kebijakan, hendaknya BRG melihat secara komprehensif. Walaupun budidaya sagu maupun jelutung tersebut sukses, belum tentu bisa menyejahterakan masyarakat. 

Alasannya, pasar atau permintaan akan pati sagu dan getah dari kayu pohon jelutung saat ini masih kecil. Sehingga dengan demikian harganya pun dipastikan akan murah.

“Itu dari sisi pasar. Belum yang dari sisi teknologi untuk mengolah pati sagu dan getah kayu jelutung saat ini juga belum siap. Intinya, perlu dana besar untuk mengembangkan kedua komoditas ini sehingga hasilnya bisa feasible,” kata Abdul Rauf.

Abdul Rauf menyarankan kepada pemerintah agar fokus saja pada komoditas yang selama ini telah terbukti memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini sehingga tidak coba-coba mengembangkan tanaman lain yang belum tentu berhasil.

“Jadi jangan khawatir kalau tanam sawit di lahan gambut, gambutnya akan terbakar. Buktinya ada kebun sawit di lahan gambut tapi tidak terbakar dan produksinya sangat bagus,” katanya.

Dia memberi contoh perkebunan sawit di lahan gambut di daerah Pesisir Timur, Sumatera Utara. Di daerah ini, kata Abdul Rauf, ada ratusan ribu hektare (ha) kebun sawit di lahan gambut telah dikembangkan petani dan korporasi sejak 100 tahun hingga saat ini.

“Gambut di sana tidak terbakar kok,” katanya.

Halaman
12
Editor: Sanusi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2016
About Us
Help