Lawan Produk Bajakan di Indonesia, Prelo Fasilitasi Penjualan Lebih Rp 10 Miliar

Proses inovasi juga terkena imbasnya. Penjual yang menawarkan barang orisinil dirugikan karena ide dan hak ciptanya disalahgunakan

Lawan Produk Bajakan di Indonesia, Prelo Fasilitasi Penjualan Lebih Rp 10 Miliar
Istimewa
Tim Prelo 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Industri e-commerce di Indonesia diproyeksikan akan menjadi yang terbesar di seluruh Asia Tenggara, dengan prediksi nilai mencapai Rp 1.732 triliun (130 miliar dollar AS) pada tahun 2020.

Untuk mencapai angka tersebut, industri e-commerce di Tanah Air terlebih dahulu perlu mendapatkan kepercayaan konsumen dan meyakinkan mereka bahwa belanja online merupakan kegiatan yang aman, praktis, dan bebas dari barang bajakan.

Dalam keterangan pers yang diterima Tribunnews.com, Rabu (12/4/2017), Prelo ingin membawa industri e-commerce di Indonesia ke tahap selanjutnya. Prelo merupakan marketplace online untuk barang preloved (bekas) yang berkualitas dan asli alias ‘no KW’ di Indonesia. Perusahaan ini menyediakan lingkungan belanja online yang aman, tempat konsumen bisa membeli barang bekas yang autentik dengan tenang.

Pembajakan dan pemalsuan bukan lagi hal yang asing di Indonesia. Menurut laporan dari Special 301 Report oleh Kantor Perwakilan Dagang AS (US Trade Representative’s Office), Indonesia merupakan 1 dari 11 negara di dunia yang sering melanggar hak aset intelektual.

Selain melanggar hukum, fenomena pembajakan yang merajalela bersifat sangat destruktif untuk ekosistem e-commerce. Banyak pembeli yang menjadi skeptis dan selalu membutuhkan verifikasi ekstra untuk memeriksa apakah barang yang dibeli asli.

Proses inovasi juga terkena imbasnya. Penjual yang menawarkan barang orisinil dirugikan karena ide dan hak ciptanya disalahgunakan untuk keuntungan pihak lain.

“Di bisnis saya sebelumnya, banyak sekali aduan dari pembeli dan penjual tentang barang palsu yang dijual,” jelas CEO dan founder Prelo, Fransiska Hadiwidjana. “Ini menyadarkan kami bahwa betapa mudahnya barang palsu diperjualbelikan di Indonesia. Akhirnya, ini menjadi salah satu alasan yang mendorong kami membangun Prelo.”

Sebagai pemilik dari beberapa hak paten di Amerika Serikat, Fransiska mengerti seberapa pentingnya melindungi ide dan inovasi.

Prelo melawan pembajakan dengan mengkurasi semua barang yang dijual melalui platform. Tim internal dan algoritma khusus dari perusahaan ini mampu mengidentifikasi produk yang mencurigakan dengan membandingkannya dengan produk lain dalam domain publik berdasarkan deskripsi, merk, model, dan berbagai atribut lainnya.

Prelo juga aktif dalam berbagai komunitas produk, agar setiap anggota semakin jeli menyaring produk yang asli dari barang palsu. Misalnya, tim Prelo belajar cara memeriksa otentisitas dari sepatu sneakers dari komunitas sneakers online.

Halaman
123
Penulis: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help