Home »

Bisnis

»

Mikro

Jangan Pernah Anggap Remeh Branding

Konsumen hari ini berharap dapat berinteraksi dengan merek, mengusulkan produk-produk dan layanan baru, lebih aktif dalam percakapan dengan produsen

Jangan Pernah Anggap Remeh Branding
Istimewa
Luiz Moutinho, pengajar dan pakar bidang BioMarketing dan Futures Research dari DCU Business School - Irlandia di Universitas Prasetiya Mulya, di Kampus Cilandak, Rabu (31/5/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Penguatan merek atau branding mengambil peran penting dalam proses diterimanya sebuah produk produsen di masyarakat konsumen.

Branding yang merupakan perluasan dari peran marketing di sebuah perusahaan tak boleh dianggap remeh, karena tanpanya produk bukan hanya tak bisa awet diterima konsumen bahkan bisa juga ditolak.

“Di masa depan peran branding semakin penting, namun ada pergeseran besar yang sudah mulai kita alami saat ini dalam cara banyak perusahaan menguatkan merek," kata Luiz Moutinho, pengajar dan pakar bidang BioMarketing dan Futures Research dari DCU Business School - Irlandia di Universitas Prasetiya Mulya, di Kampus Cilandak, Rabu  (31/5/2017).

Dikatakannya, era fuzzynomics yang membombardir informasi ke konsumen tanpa arti dan hanya bertujuan untuk mengarahkan publik untuk membeli sebuah produk sedang berakhir.

"Kondisi itu terbukti memisahkan secara tajam hubungan antara produsen dan konsumen. Baik merek maupun konsumen sama-sama tak punya konsep yang jelas”, tambah Moutinho yang hadir dalam seminar Branding Update: A New Perspective in Branding World dengan topik The Future of Branding yang diselenggarakan Program S1 Branding Sekolah Bisnis dan Ekonomi.

 Saat ini ada dua fenomena besar yang menggeser cara perusahaan sekarang menguatkan brand.

Pertama, berbaliknya ayunan pendulum menuju merek nasional, yang akan menguat di atas merek-merek global”, kata pakar yang juga menguasai bidang digital marketing ini.

Menurutnya makin banyak terlihat saat ini merek-merek nasional menguasai pasar daripada merek-merek dunia. Ini bisa terjadi karena konsumen mempertimbangkan produk lebih karena fungsi dan manfaat daripada karena merek.

Fenomena kedua adalah penolakan konsumen pada gagasan-gagasan branding yang tak bermakna.

"Iklan televisi yang mahal dan tak berarti, yang mencoba menciptakan kesadaran akan merek tertentu, tanpa menyampaikan pesan yang jelas mengenai nilai atau layanan produk adalah contohnya. Tentu saja, jika tujuannya hanya untuk mengelabui orang agar membeli, mungkin iklan itu bisa sangat efektif," katanya.

Konsumen hari ini kata Moutinho, selalu berharap dapat berinteraksi dengan merek, mengusulkan produk-produk dan layanan baru, dan menjadi lebih aktif dalam percakapan dengan produsen terkait merek.

Penulis: Eko Sutriyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help