Rizal Ramli: Garuda Terlilit Utang Akibat Dugaan Korupsi Pembelian Airbus A350

"Tapi ini jadi tertutup karena kesalahan di masa lalu yang terlalu jor- joran dalam membeli pesawat baru yang tidak tepat.

Rizal Ramli: Garuda Terlilit Utang Akibat Dugaan Korupsi Pembelian Airbus A350
AIRBUS
Airbus A350 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI, Rizal Ramli menyebut ada unsur korupsi dalam pembelian pesawat Garuda Indonesia long route Airbus A350.

Menurut dia, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sendiri sudah membuktikan adanya permainan tersebut.

"Jadi banyak permainan duit," kata Rizal di Jakarta, Kamis (15/6/2017).

Padahal, kata Rizal, Garuda Indonesia merupakan maskapai penerbangan kebangaan Indonesia dengan sejarah panjang. Terlebih, dengan kualitas service premium setara dengan perusahaan penerbangan dunia.

"Tapi ini jadi tertutup karena kesalahan di masa lalu yang terlalu jor- joran dalam membeli pesawat baru yang tidak tepat. Di dalam pembelian pesawat ada sogok menyogok, ada KKN, kemahalan sehingga akibatnya Garuda Indonesia dikubangi utang besar triliunan rupiah," ungkap dia.

Dia juga berujar, seharusnya para komisaris dan manajemen Garuda Indonesiaberani menyatakan fakta tanpa ada kepentingan-kepentingan pribadi. "Saya meminta komisaris dan manajemen berani menyatakan kebenaran sesuai fakta yang ada,” simpulnya.

Rizal mengaku sempat ditentang oleh beberapa pihak atas pernyataan kerasnya, padahal apa dikatakannya telah melalui proses evaluasi dan analisa.

"Semua yang kita sampaikan itu rasional, telah melalui evaluasi dan analitikal. Dulu saya ngomong begitu banyak yang protes tapi hampir semua yang kami katakan terbukti karena saya tidak asal bicara," kata dia.

Rizal juga menyarankan, agar persoalan yang ada harus segera dibenahi dengan cara me-reschedule pembelian pesawat atau dijual ke pihak ketiga.

"Jadi Garuda Indonesia fokus saja untuk meningkatkan pendapatan dari penerbangan domestik dan regional. Garuda juga akan lebih tepat jika membeli pesawat Airbus 330 yang lebih efisien," kata Rizal.

Diketahui, pada kuartal I 2017 Garuda Indonesia mencatatkan kerugian sebesar 98,5 juta dollar AS atau sekitar Rp 1,31 triliun (kurs 13.300). Padahal pada kuartal I 2016, perseroan mencatatkan laba US$ 1,02 juta.

Kerugian yang terjadi pada kuartal I 2017 lalu disebabkan oleh beberapa hal. Antara lain, karena kenaikan harga bahan bakar avtur.

Kemudian, perseroan juga menangguk rugi karena sedikitnya jumlah penumpang yang diangkut. Hal ini sejalan dengan siklus tahunan sepinya penumpang di kuartal I.

Ada beberapa rute penerbangan baik domestik maupun mancanegara mengalami kerugian akibat sedikitnya jumlah penumpang. Setidaknya ada 10-20 rute dalam daftar yang tengah dikaji oleh pihak maskapai mengenai keberlanjutannya. (Moh Nadlir)

Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help