Pemerintah: Subsidi Listrik Tahun Depan Naik Rp 11 Triliun

"Perhitungannya untuk tahun depan tidak ada perubahan subsidi untuk konsumen 450 VA, jadi sudah konsisten dengan kebijakan yang ada saat ini."

Pemerintah: Subsidi Listrik Tahun Depan Naik Rp 11 Triliun
Harian Warta Kota/henry lopulalan
Petugas PLN mendeteksi kabel tegangan menengah bawah tanah di depan Kantor KPUD Jakarta, Kramat, Jakarta Pusat,, Senin (17/4/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah akan menaikkan subsidi listrik tahun depan hingga sebesar Rp 11,7 triliun. Jika dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2017 anggaran subsidi listrik Rp 44,98 triliun, maka tahun depan akan naik menjadi Rp 52,66 triliun hingga Rp 56,77 triliun.

Kenaikan subsidi listrik tahun depan dilakukan seiring masih akan diberikannya subsidi untuk kelompok pelanggan 450 volt ampere (VA). Kenaikan subsidi juga menjadi konsekuensi dari potensi kenaikan harga minyak dunia, dan melemahnya kurs rupiah.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan, walau alokasi subsidi naik namun jumlah penerima subsidi listrik tahun depan masih akan sama dengan tahun ini.

"Perhitungannya untuk tahun depan tidak ada perubahan subsidi untuk konsumen 450 VA, jadi sudah konsisten dengan kebijakan yang ada saat ini," katanya, Minggu (18/6/2017).

Dia bilang, kenaikan subsidi listrik karena peningkatan harga minyak Indonesia atau Indonesian crude price (ICP).

Dalam usulan RAPBN 2018, ICP di kisaran US$ 45-US$ 60 per barel. Angka asumsi ICP 2018 lebih tinggi dari APBN 2017 yang sebesar US$ 45 per barel.

Parameter lain yang mempengaruhi beban subsidi, yaitu depresiasi nilai tukar Rupiah. Dalam RAPBN tahun depan, nilai tukar akan berada pada Rp 13.500 hingga Rp 13.800 per dolar AS. Tahun ini, nilai tukar rupiah diasumsikan Rp 13.300 per dolar AS.

Tak berpengaruh

Namun menurut Kepala Satuan Unit Komunikasi Korporat PLN I Made Suprateka, jika dikaitkan dengan kenaikan ICP, maka seharusnya tarif listrik tidak akan banyak terpengaruh.

Sebab, penggunaan solar untuk pembangkit PLN hanya sekitar 5%. Sehingga biaya pokok produksi (BPP) tidak membuat adanya kenaikan tarif listrik.

Halaman
12
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help