Energi Baru dan Terbarukan

Memaksimalkan Potensi Mikro Hidro dan Kopi di Gununghalu ala Unsada

Universitas Darma Persada mencoba membantu memaksimalkan potensi mikro hidro di Gununghalu lewat program desa mandiri energi dan ekonomi

Memaksimalkan Potensi Mikro Hidro dan Kopi di Gununghalu ala Unsada
Tribunnews.com/Dodi Esvandi
Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Darma Persada, Kamaruddin Abdullah, menerangkan mengenai alat pengolahan kopi yang menggunakan listrik dari tenaga mikro hidro di Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat. 

TRIBUNNEWS.COM, BANDUNG BARAT - Gununghalu adalah nama sebuah dusun di kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Letaknya sekitar 60 km di barat daya kota Bandung. Tidak terlalu jauh, namun butuh waktu hampir 3 jam dari kota Bandung untuk mencapai desa yang lokasinya cukup terpencil ini.

Meski jauh di pedalaman, Gununghalu punya banyak potensi alam. Selain tanahnya yang subur, Gununghalu juga punya potensi energi mikro hidro yang bisa dikonversi menjadi energi listrik. Sejak satu dekade silam, sekitar 85 keluarga yang terdiri dari 300 jiwa di desa ini bahkan sudah bisa menikmati aliran listrik tanpa bergantung kepada PLN.

Berawal dari bantuan Dinas ESDM Provinsi Jawa Barat yang membangun sebuah pembangkit mikro bertenaga air pada tahun 2007. Pembangkit yang tenaganya berasal dari aliran sungai Ciputri itu mampu menghasilkan listrik dengan kapasitas 18.000 watt atau 18 KW.

Selama ini secara teknis aliran listrik 18 KW itu hanya dimanfaatkan oleh warga pada malam hari, yakni sebagai penerangan. Sementara pada siang hari, otomatis listrik dari pembangkit mikro hidro itu tak dimanfaatkan.

Pembangkit listrik tenaga mikro hidro dari sungai Ciputri, Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat
Pembangkit listrik tenaga mikro hidro dari sungai Ciputri, Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat (Tribunnews.com/Dodi Esvandi)

Selain potensi tenaga mikro hidro, Gununghalu juga punya potensi lain di bidang pertanian dan perkebunan, yakni tanaman kopi. Memang belum sepopuler kopi dari daerah lain seperti kopi Aceh, kopi Lombok, atau kopi Lampung, namun kopi dari Gununghalu punya rasa yang khas.

Melihat dua potensi tersebut, Universitas Darma Persada (Unsada) lantas mencoba membantu memaksimalkannya lewat program desa mandiri energi dan ekonomi (E3I). Caranya dengan membangun sebuah pusat pengolahan kopi berbasis energi terbarukan di dusun ini, yang diresmikan pada Kamis (13/7/2017).

Direktur Sekolah Pasca Sarjana Universitas Darma Persada, Kamaruddin Abdullah, sebagai pimpinan proyek ini mengatakan, pembangunan pusat pengolahan kopi ini adalah bentuk pengabdian masyarakat Unsada dengan membantu masyarakat di dusun Tangsi Jaya di Gununghalu yang sudah memiliki infrastruktur energi terbarukan untuk mengembangkan perekonomiannya menuju desa mandiri, namun belum dimaksimalkan.

Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Darma Persada, Kamaruddin Abdullah saat meresmikan pusat pengolahan kopi yang menggunakan listrik dari tenaga mikro hidro di Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (13/7/2017)
Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Darma Persada, Kamaruddin Abdullah saat meresmikan pusat pengolahan kopi yang menggunakan listrik dari tenaga mikro hidro di Dusun Tangsi Jaya, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (13/7/2017) (Tribunnews.com/Dodi Esvandi)

Untuk membangun pusat pengolahan kopi ini Unsada menghabiskan biaya hingga Rp 1,98 miliar. Semua dana itu berasal dari bantuan program hibah lingkungan Mitsui & Co Jepang.

Kamaruddin berharap pembangunan pusat pengolahan kopi ini bisa meningkatkan nilai tambah ekonomi dari hasil perkebunan kopi warga di dusung Tangsi Jaya, Gununghalu. Jika selama ini warga menjual biji kopi gelondongan ke pengepul dengan harga murah, sekitar Rp 8.500 per kg, maka setelah diolah di tempat ini dan menjadi biji kopi, harga jualnya bisa jadi lebih tinggi, sekitar Rp 40 ribu per kg.

"Pengolahan kopi dan sistem koperasi merupakan modal kerja. Diharapkan pada tahun pertama hasil pengolahan kopi ini bisa meningkatkan perekonomian masyarakat," kata mantan rektor Unsada itu.

Halaman
12
Penulis: Dodi Esvandi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help