BPS Sebut Neraca Perdagangan Juni 2017 Surplus USD 1,63 Miliar

BPS mencatat nilai neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juni 2017 mengalami surplus USD 1,63 miliar.

BPS Sebut Neraca Perdagangan Juni 2017 Surplus USD 1,63 Miliar
WARTA KOTA/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Aktivitas Truk Kontrainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, terlihat sepi dari biasanya, Senin (2/12/2013). Demi menekan defisit neraca perdagangan, pemerintah akan membatasi produk-produk impor. (Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com,  Apfia Tioconny Billy

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai neraca perdagangan Indonesia pada bulan Juni 2017 mengalami surplus USD 1,63 miliar.

Adapun rincian keuntungan tersebut berasal dari nilai ekspor USD 11,64 miliar dan impor USD 10,01 miliar.

"Nilai neraca perdagangan Indonesia Juni 2017 mengalami surplus USD 1,63 miliar," ungkap Kepala BPS Suhariyanto, dalam konferensi pers BPS di kantor BPS, Jakarta Pusat,  Senin (17/7/2017).

Kepala BPS Suhariyanto menjabarkan surplusnya neraca perdagangan pada Juni 2017 dipicu oleh surplusnya sektor nonmigas senilai USD 1,96 miliar. 

Sementara itu dari sisi sektor migas mengalami defisit sebesar USD 0,33 miliar.

Sedangkan dari sisi volume perdagangan, perdagangan Indonesia mengalami surplus 28,25 juta ton pada Juni 2017.

"Hal tersebut di dorong oleh surplus neraca sektor nonmigas 28,40 juta ton, namun neraca volume perdagangan sektor migas defisit 0,15 juta ton," ungkap Suhariyanto

Dari sisi nilai ekspor pada Juni ini mengalami penurunan 18,82 persen dibanding Mei 2017. Turun dari 14, 34 pada Mei 2017 menjadi 11,,64 pada Juni ini.

Nilai impor juga mengalami penurunan dsri Mei 2017 sebesar USD 3.753,4 juta dari USD 13,76 miliar pada Mei 2017 menjadi USD 10,01 Miliar pada Juni 2017.

Suhariyanto  mengatakan tidak stabilnya harga komoditas di pasar global selama bulan Juni juga ikut memengaruhi perkembangan nilai ekspor dan impor Indonesia. 

"Selama bulan Mei sampai Juni harga komoditas di pasar global belum stabil ada menurun ada naik," ungkap Suhariyanto.

Masa Lebaran hingga hari raya Idul Fitri pada Juni lalu juga dikatakan ikut berdampak pada penurunan ekspor dan impor karena penurunan pengiriman barang akibat larangan truk masuk tol selama masa mudik selama 10 hari.

"Ada libur panjang dan ada larangan kendaraan truk masuk ke jalur tol. Itu yang membuat ekspor kita turun.  Kalau kita liat trend berikutnya itu akan naik lagi," pungkas Suhariyanto.

Penulis: Apfia Tioconny Billy
Editor: Fajar Anjungroso
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help