Home »

Bisnis

»

Mikro

Kisah Inspiratif Mantan TKI, Pemilik Toko Beromzet Rp15juta Perhari

Kini, Prakoso akhirnya sudah memiliki usaha kelontong A3 Mart di Ponorogo beromzet 15juta setiap hari.

Kisah Inspiratif Mantan TKI, Pemilik Toko Beromzet Rp15juta Perhari
skalanews.com
Isnaeni Faiz Prakoso di Acara Smesco Bussiness Festival 

Petualangan pemuda asal Ponorogo Jatim bernama Isnaini Faiz Prakoso (44) patut diacungi jempol. Setelah putus nyambung menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke negara Korea dan dua kali ke negara Taiwan, kini, Prakoso akhirnya sudah memiliki usaha kelontong A3 Mart di kawasan protokol Jalan Mayjen Sutoyo 15, Ponorogo, Jawa Timur.

Dilahirkan dari keluarga buruh petani, TKI lulusan pesantren modern di Ponorogo ini terbilang pejuang sejati yang pantang menyerah. Bermodalkan pinjaman dari Bank senilai Rp1,4juta, pria yang sering disapa Pak Pras, ini berangkat ke negeri ginseng.

"Saya terinspirasi dari teman-teman yang mudah membeli rumah atau kendaraan dan bisa mengetahui budaya negara lain, langsung membulatkan tekad menjadi TKI ke Korea awal tahun 1996, " kata suami dari Nuryanti (41) dan ayah satu orang anak ini saat menceritakan kisahnya dalam acara Smesco Bussiness Festival di gedung Smesco Jakarta, Selasa (18/7/2017).

Dua tahun menjadi TKI di Korea dan memperoleh gaji sekitar Rp1juta/bulan, Pras akhirnya kembali ke Indonesia karena krisis melanda dunia dan perusahaannya di Korea mengalami bangkrut. 

"Hasil jerih payah selama dua tahun menjadi TKI akhirnya ludes, karena orangtua saya memberi pinjaman ke tetangga," kata pria kelahiran Warak, Ponorogo, 14 Mei 1973 itu dengan aksen Jawa yang kental.

Pras belum menyerah. Setahun berikutnya kembali menjadi TKI di Taiwan setelah meminjam uang ke Bank dengan jaminan sertifikat dan tanpa bantuan dana dari orangtua. Tekadnya hanya satu yakni memiliki aset di tepi jalan ketika kelak kembali dari Taiwan

Singkat cerita, setelah menjadi TKI di Taiwan, Pras akhirnya berhasil membeli rumah toko (ruko) dan dibuat dua lantai. Ruko tersebut dikontrakkan dan dibuatkan keramik oleh pengontraknya.

"Hasil jerih payah menjadi TKI di Taiwan pun habis karena saat membangun tanpa RAB (rencana anggaran belanja) yang matang. Saya terlalu percaya dengan tukang," kata Pras.

Setelah itu, Pras ingin kembali ke Taiwan. Namun adanya moratorium era presiden Megawati Soekarnoputri ketika itu, membuat Pras akhirnya tinggal dengan mertuanya dan memulai wirausaha jual beli palawija.

Pras pun kembali ke Taiwan kedua kalinya setelah meminjam emas tetangga. Meski terseok-seok, Pras yang menjadi tenaga operator mesin dipercaya menjadi penerjemah atau translator mengingat latar belakangnya berasal dari pondok pesantren modern.

Halaman
12
Editor: Content Writer
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help