Atasi Kelangkaan dan Mahalnya Harga Garam, Belajarlah dari Yogyakarta

"Kami akan melatih masyarakat pesisir khususnya ibu-ibu bagaimana cara memproduksi garam."

Atasi Kelangkaan dan Mahalnya Harga Garam, Belajarlah dari Yogyakarta
Tribun Jateng/Mamdukh Adi Priyanto
Petani garam mengolah ladang garam di Desa Sawojajar, Kecamatan Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Selasa (25/7/2017). TRIBUN JATENG/MAMDUKH ADI PRIYANTO 

TRIBUNNEWS.COM, YOGYAKARTA - Masyarakat dan pedagang saat ini menjerit oleh langkanya pasokan garam di pasar. Kalaupun ada, harganya juga sudah melonjak tajam, mencapai sekitar Rp 6 ribu per kilogram.

Di tengah situasi tidak menguntungkan ini Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta punya strategi tersendiri mengatasi kelangkaan pasokan garam.

Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Istimewa Yogyakarta akan melatih teknik memproduksi garam kepada masyarakat pesisir di Kabupaten Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul untuk memenuhi sendiri kebutuhan garam di provinsi ini.

"Kami akan melatih masyarakat pesisir khususnya ibu-ibu bagaimana cara memproduksi garam. Untuk suaminya yang nelayan kami dorong tetap fokus melaut," kata Kepala Bidang Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Suwarman Partosuwiryo di Yogyakarta, Sabtu (29/7/2017).

Rencana pelatihan itu, kata dia, menyusul keinginan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sultan HB X agar DIY bisa memproduksi garam sendiri. Keinginan Sultan itu, menurut Suwarman, cukup beralasan karena laut di DIY, khususnya di pantai Gunung Kidul memiliki kandungan garam yang tinggi.

"Air laut di Gunung Kidul memiliki kadar garam yang bagus. Tidak ada muara sungai di sepanjang pantai Gunung Kidul sehingga air lautnya jernih sehingga bagus untuk membuat garam," kata Suwarman serperti dikutip antaranews.com.

Saat ini, DKP DIY masih dalam tahap mengusulkan skema pengelolaan produksi garam dan sarana prasarana yang dibutuhkan kepada Gubernur DIY. "Kami juga masih akan menanyakan lahan yang akan digunakan karena saat ini DKP DIY tidak memiliki lahan," kata dia.

Namun struktur pantai di DIY yang curam menjadi kendala tersendiri, khususnya untuk pengambilan air laut sebagai bahan pembuatan garam, yang berbeda dengan Jawa Tengah atau Madura yang memiliki struktur pantai yang landai sehingga cukup mengandalkan pasang surut air laut.

"Makanya untuk mendapatkan air laut, kami akan mengusulkan penggunaan pompa air atau cukup memakai timba ," kata Suwarman.

DKP DIY pernah memberikan pelatihan pembuatan garam kepada masyarakat pesisir pantai selatan DIY di Pantai Trisik Kulon Progo, Pantai Samas dan Depok Bantul, dan Pantai Sadeng dan Sepanjang di Gunung Kidul.

"Yang masih bertahan sampai sekarang tinggal di Pantai Sepanjang dengan produksi garam rata-rata 40 kilogram," kata dia.

Sumber: Antara

Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved