Rupiah Kembali Dibuka Melemah ke Level 13.328 per Dolar AS

Masih adanya sentimen pertemuan The Fed dan meningkatnya permintaan akan mata uang USD cenderung kembali menahan postensi penguatan rupiah.

Rupiah Kembali Dibuka Melemah ke Level 13.328 per Dolar AS
THINKSTOCKPHOTOS
Ilustrasi rupiah. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Syahrizal Sidik

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Laju rupiah cenderung kembali melanjutkan pelemahannya. Mengutip Bloomberg, pada pembukaan perdagangan pagi ini, Jumat (22/9/2017) rupiah dibuka melemah ke level 13,328 per dollar AS. 

Masih adanya sentimen pertemuan The Fed dan meningkatnya permintaan akan mata uang USD cenderung kembali menahan postensi penguatan rupiah.

Kehati-hatian pelaku pasar menjelang rapat The Fed telah membuat beberapa investor melakukan penyesuaian yang lebih tajam terhadap posisi mereka. Ditambah dengan adanya potensi terjadi ketegangan di semenanjung Korea menyusul pernyataan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya di PBB.

Menurut Analisis Senior Binaartha Sekuritas, reza, tidak jauh berbeda dengan sebelumnya di mana secara historis jelang pertemuan The Fed seperti biasa akan membuat laju USD menguat dan imbasnya ke rupiah yang cenderung melemah.

Pelaku pasar pun diperkirakan akan kembali memanfaatkan mulai menguatnya nilai tukar USD untuk kembali masuk ke USD yang dapat membuat laju USD cenderung menguat.

Namun, menurut Reza penting untuk tetap mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat pergerakan rupiah kembali variatif.

“Diperkirakan rupiah akan bergerak dengan kisaran pada kisaran support Rp. 13.281 dan resisten Rp. 13.240,” ujar Reza, Jumat (22/9/2017)

Sementara itu, pergerakan rupiah yang masih terimbas kenaikan USD kembali menutup peluang rupiah untuk berbalik naik. Minimnya sentimen positif dan masih lebih besarnya perhatian pelaku pasar kepada pertemuan The Fed membuat laju Rupiah melemah.

Lanjut Reza, diharapkan sentimen tersebut dapat mereda sehingga laju rupiah pun kembali menemukan momentum kenaikannya pasca libur nasional dalam negeri serta tetap mewaspadai berbagai sentimen yang dapat membuat pergerakan rupiah kembali variatif. 

Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help