Harga Rokok Melunak Saham Sektor Tembakau Tetap Netral

Empat pemain besar di industri ini yang gencar mengeluarkan produk baru sejak pertengahan 2015 hingga 2016, perlahan menahan harga

Harga Rokok Melunak Saham Sektor Tembakau Tetap Netral
Ist
Ilustrasi pabrik rokok

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Memasuki paruh kedua tahun ini, perang kenaikan harga rokok di industri tembakau Indonesia mulai mereda seiring dengan keluarnya produk baru dengan harga yang bersaing.

Empat pemain besar di industri ini yang gencar mengeluarkan produk baru sejak pertengahan 2015 hingga 2016, perlahan menahan harga karena kenaikannya sudah terlalu tinggi.

PT Bahana Sekuritas dalam rilisnya menyebutkan, ada sejumlah hal yang menguntungkan industri tembakau pada tahun depan, yang jugamasih disertai beberapa risiko yang patut dicermati. Dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atauRAPBN 2018, terlihat rencana kenaikan cukai tidak akansetinggi tahun ini.

Bila pada tahun ini rata-rata kenaikan cukairokok sekitar 10% - 11%, maka pada tahun depan kenaikancukai bakal berada pada kisaran 7% - 9%.

‘'Dalam 5 tahun terakhir, rata-rata kenaikan cukai rokok lebihtinggi dari kenaikan inflasi, bila tahun depan kenaikan cukairokok tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya, akan memberidampak positif bagi industri rokok, '' ungkap Analis Bahana Michael Setjoadi.

''Namun disisi lain, pemerintah semakin ketatmengatur iklan rokok yang bisa tayang di televisi ataupun di tempat umum, ditambah lagi larangan merokok di tempat umumsemakin digencarkan,'' tambahnya.

Sehingga sekuritas milik negara ini memperkirakan volume penjualan rokok tahun depan masih akan mengalami kontraksisekitar 1-1,5%, dibandingkan penjualan tahun ini yang diperkirakan turun sebesar 1,5%. Volume produksi rokokdiperkirakan akan mencapai 318,8 miliar batang pada tahundepan, naik dibandingkan perkiraan volume produksi tahunsekitar 315,6 miliar batang.

Dari empat pemain besar di industri tembakau Indonesia, Bahana merekomendasikan beli untuk saham PT Gudang Garamkarena pada tahun depan diperkirakan daya beli masyarakatakan kembali pulih khususnya masyarakat menengah ke bawahyang pada umumnya adalah target pasar perusahaan yang berkode saham GGRM ini.

Salah satu hal yang menolongpulihnya daya beli masyarakat adalah perhelatan pilkada danjuga kampanye pemilihan presiden yang diperkirakan akandimulai pada paruh kedua tahun depan. Pilkada diperkirakanakan meningkatkan konsumsi untuk wilayah di luar kota.

Lebih rendahnya kenaikan cukai rokok pada tahun depan akanlebih menguntungkan bagi Gudang Garam sehingga laba bersihdiperkirakan akan naik sebesar 6% menjadi Rp 7,25 triliun dariperkiraan laba bersih sepanjang 2017 sekitar Rp 6,85 triliun serta Bahan memperkirakan GGRM akan diperdagangkansebesar 17,6 x PE pada 2018, dibandingkan dengankompetitornya Sampoerna yang diperkirakan akandiperdagangkan sebesar 34,9 x PE pada tahun depan. Target harga GGRM oleh Bahana sebesar Rp 79.000/lembar.

Sementara itu, PT HM Sampoerna masih akan meluncurkanberagam produk baru dengan target pasar yang berbeda. Saat inikeberadaan produk A Mild menyasar pasar premium, produk U Mild untuk masyarakat menengah, sedangkan Magnum Mild yang baru saja diperkenalkan ke pasar untuk menyasarmasyarakat menengah ke bawah.

Perusahaan berkode sahamHMSP ini cukup efisien karena satu mesin produksi dapatdigunakan untuk memproduksi beragam produk karena kemasanrokok yang sama untuk semua produk. Berbeda dengan GudangGaram yang memiliki satu mesin untuk setiap produknya.

Anak usaha Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) inimemperkirakan laba bersih HMSP hanya naik sekitar 1% menjadi Rp 12,87 triliun pada 2018, dari laba bersih tahun iniyang diperkirakan mencapai Rp 12,76 triliun. Bahanamerekomendasikan beli dengan target harga Rp 4.200/lembar.

Editor: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2017
About Us
Help