Home »

Bisnis

»

Mikro

Berawal Dari Usaha Rumahan, Nike Terkejut Bisa Menangi DEA 2017

Dari 607 kontestan yang berpartisipasi, Nike terpilih menjadi pemenang Best Small Entrepreneur dan pemenang favorit.

Berawal Dari Usaha Rumahan, Nike Terkejut Bisa Menangi DEA 2017
Dokumentasi Kompas
Nike Lidiyastuti Aritovani 

TRIBUNNEWS.COM – Malam penganugerahan Danamon Entrepreneur Awards (DEA) 2017 di Soehanna Hall, Energy Building, Jakarta, Rabu (6/12/2017), mungkin jadi malam yang istimewa bagi Nike Lidiyastuti Aritovani, pengusaha pengolahan kuliner cakalang dari Ambon.

Dari 607 kontestan yang berpartisipasi, Nike terpilih menjadi pemenang Best Small Entrepreneur dan pemenang favorit dari lima peraih DEA 2017 lainnya berdasarkan proses voting online dari tanggal 19 November sampai 5 Desember 2017.

Nike mengaku dirinya tak menyangka bisa memenangkan kategori Best Small Entrepreneur dan pemenang favorit DEA 2017.

“Sebenarnya ini bonus yang luar biasa karena sebelumnya saya tidak menyangka dari yang urusan dapur (usaha pengolahan ikan cakalang) sangat diapresiasi begitu besar oleh Danamon,” ujar Nike.

Berhasil mendapatkan hadiah sebesar Rp 60 juta, Nike berharap penghargaan ini bisa menginspirasi ibu-ibu atau wirausaha lainnya.

“Saya harap ini bisa menginspirasi ibu-ibu di luar sana ataupun wirausaha lain bahwa kita jangan berkecil hati. Kita pasti bisa melakukan yang terbaik dan bermanfaat untuk lingkungan. Saya yakin kedepannya akan banyak pihak yang mengapresiasi kita, salah satunya seperti Danamon,” ungkap Nike.

Berawal dari Kebimbangan

Usaha ini, aku Nike, berawal dari kebimbangannya antara terus bekerja atau membesarkan kedua putrinya.

“Awalnya saya seorang ibu dari dua putri yang dilemma antara terus bekerja atau membesarkan anak-anak. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bekerja dan melakukan usaha dari sesuatu yang saya bisa, yaitu memasak,” terang Nike.

Tinggal di Ambon dan melihat potensi ikan yang cukup besar, terutama ikan cakalang, Nike memutuskan untuk membuka usaha pengolahan ikan cakalang. Pada awalnya Nike mengaku cukup stres.

“Awalnya stres karena biasanya tiap bulan dapat gaji tetap, dan ketika memulai usaha ini ada bulan-bulan tertentu yang sepi penjualan tapi untungnya sekarang selain untuk penghasilan pribadi, ternyata usaha saya bisa memanfaatkan masyarakat terutama nelayan dan ibu-ibu sekitar untuk berkontribusi,” ungkap Nike.

Saat ini pun Nike telah berhasil memanfaatkan 11 ibu-ibu sebagai pekerja dan produknya sudah ada di lima kota seperti Ambon, Makassar, Manado, Surabaya, dan Denpasar.

Selama proses penjurian DEA 2017, Nike mengungkapkan dirinya sebenarnya takut karena lokasi tempat tinggalnya yang berada di Timur.

“Sebenarnya takut, karena kita kan di Timur. Saat proses penjurian, kita didatangi secara langsung dan dilihat seperti apa keseharian produksi kita. Bahkan kami sempat kikuk karena belum terbiasa melihat kamera. Tak hanya itu, tahapan penjuriannya juga selektif, jadi saya senang bisa terlibat dan membuktikan kita yang dari Timur ternyata tidak kalah dan bisa bersaing,” tutup Nike.

Editor: Advertorial
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help