Home »

Bisnis

»

Mikro

William Henley: Pengusaha Indonesia Silahkan Merespons Pemerintah Cina

Pengusaha Indonesia disarankan agar segera merespons adanya niat pemerintah Cina yang akan membuka pintu secara lebar bagi investor asing untuk masuk

William Henley: Pengusaha Indonesia Silahkan Merespons Pemerintah Cina
Istimewa
CEO Indosterling Group William Henley 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pengusaha Indonesia disarankan agar segera merespons adanya niat pemerintah Cina yang akan membuka pintu secara lebar bagi investor asing untuk masuk ke negaranya.

Pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Indonesia dinilai memiliki modal keunggulan komparatif untuk bisa bersaing dengan produk Cina.

Hal tersebut disampaikan pemerhati UMKM dari Indosterling Capital, William Henley. Ia menyampaikan hal tersebut terkait pernyataan Menteri Perdagangan Cina Zhong San yang ingin membuka pintu bagi investor asing sekaligus janji untuk mempermudah investor asing memasuki pasar dalam negeri Cina serta jaminan atas hak-hak perusahaan asing.

"Produk UMKM Indonesia selama ini memiliki kekhasan tersendiri. Ada berbagai keunggulan komparatif. Sebagai contoh adalah ragam racikan pada kerupuk udang Indonesia yang berbekal pada kekayaan budaya kuliner milik bangsa," ungkapnya, Selasa (2/1/2018).

Mengutip data Trading Economics, William menjelaskan, pendapatan per kapita (GDP) Negeri Tirai Bambu sampai dengan akhir Desember 2016 mencapai 11.199 dolar AS.

Di antara negara-negara anggota G20, Cina berada di urutan ketiga di bawah AS (18.569 dolar AS) dan negara-negara Eropa (11.885 dolar AS).

William menjelaskan salah satu pendukung perekonomian Cina adalah jumlah penduduk yang demikian besar. Populasi berdasarkan proyeksi Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2017 mencapai 1,41 miliar jiwa. Dari jumlah itu, sekitar lebih dari 50 persen merupakan penduduk kelas menengah.

Firma konsultan McKinsey, kata William, memproyeksikan dalam jangka waktu lima tahun ke depan, populasi kelas menengah Cina akan meningkat menjadi 76 persen.

Mereka adalah penduduk yang tadinya berpendapatan 9.000 dolar AS sampai 16 ribu dolar AS per tahun, menjadi 16 ribu dolar AS hingga 34 ribu dolar AS per tahun.

"Sejumlah potensi yang ada ini tentu sangat sayang jika dilewatkan. Apalagi, dengan adanya komitmen Pemerintah Cina. Inilah peluang," kata pria yang akrab disapa William Botax ini.

Halaman
12
Editor: Toni Bramantoro
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help