Beroperasinya Kereta Bandara Tuai Pujian, Pemerintah Hadir di Layanan Transportasi

Kehadiran KA bandara untuk ke Soekarno-Hatta merupakan wujud kehadiran negara dalam melayani kebutuhan transportasi masyarakat

Beroperasinya Kereta Bandara Tuai Pujian, Pemerintah Hadir di Layanan Transportasi
henry lopulalan/stf
RESMIKAN KA BANDARA - Presiden RI Joko Widodo, meresmikan pengoperasian Kereta Bandara Soetta di Stasiun Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten (2/1). Waktu tempuh kereta dari Bandara Soekarno-Hatta ke Stasiun Sudirman Baru berdurasi sekitar 54 menit dengan tarif Rp70 ribu. Warta Kota/henry lopulalan 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Kehadiran KA bandara untuk ke Soekarno-Hatta merupakan wujud kehadiran negara dalam melayani kebutuhan transportasi masyarakat.

“Keberhasilan pemerintah Jokowi menyelesaikan KA Bandara ini patut diapresiasi. Karena menunjukkan keseriusan dan kesungguhan pemerintahan Jokowi dalam menyelesaikan proyek infrastrutur yang amat sangat strategis ini, kata Pengamat Transportasi dan Ketua Instra (Insiatif Strategis untuk Transportasi (Instra) Darmaningtyas di Jakarta, Selasa, (2/1/2018).

Menurut dia, beroperasinya KA Bandara layak diapresiasi karena sudah 17 tahun pemerintah berusaha membangun KA bandara ini, dan baru tahun ini benar-benar direalisasikan.

“ Ini cukup membanggakan. Setelah berupaya lama,akhirnya terwujud juga. Kan di hampir semua negara,bandara internasional selalu terhubung dengan kereta. Jadi ini sebuah prestise,”kata dia.

Namun demikian masih ada pekerjaan rumah bagi pemerintah dalam mendukung keberadaan kereta bandara ini terutama dalam upaya mengurangi subsidi.

Salah satunya,saat ini KA bandara menghadapi beberapa tantangan antara lain dari pesaing seperti moda transportaai darat JR Connextion dan angkutan roda empat berbasis online. Tantangan lainnya adalah kemacetan yang menghadang orang atau calon penumpang yang akan menuju ke Stasiun Sudirman Baru/BNI City.

”Kalau calon penumpangnya berasal dari Kelapa Gading atau Kampung Rambutan pastu akan memilih angkutan lain daripada garus bermacet macet ke Stasiun Sudirman Baru/BNI City.Mending mereka pilih DAMRI atau angkutan online.Apalagi kalau perginya lebih dari 2 orang.Ke Stasiun Sudirman Baru malah macet hingga jadi kerja 2 kali,”papar dia.

Disarankannya, pemerintah segera menyelesaikan stasiun induk Stasiun Manggarai untuk mensuport keberlangsungan KA bandara ini.Dengan selesainya stasiun Manggarai nanti,calon penumpang baik dalam kawasan Jabodetabek maupun luar Jakarta akan memiliki akses muda ke bandara lewat keret karena dengan hanya menuju Manggarai calon penumpang dapat menggunakan KRL.

“ Dari Bogor tinggal.menggunakan KRL, demikian pula dari Bekasi.Dengan demikian nantinya kehadiran KA bandara akan makin sustainable.Artinya jumlah penumpang akan meningkat,”jelas dia.

Apalagi,kata dia,bila stasiun Manggarai sudah selesai penumpang dari luar DKI pun yang dari Bandung,Semarang dan Yogakarta yang mau ke Eropa,Amerika yang maskapainya belum ada koneksi ke kota-kota tersebut bisa memiliki akses ke Manggarai.

“Karena itu saya menyarankan agar di kawasan Stasiun Manggarai nanti dibangun hotel-hotel transit,jadi yang dari luar DKI yang akan menuju bandara Soekarno-Hatta bisa menggunakan fasilitas tersebut, yang mempermudah akses calob penumpang,”ungkapnya.

Ditambahkannya, kehadiran KA Bandara akan makin kukuh apalagi LRT dan MRT sudah selesai. Karena dengan dukungan LRT dan MRT ini ,akses calon pengguna KA Bandara akan semakin mudah dan beragam.

Terpisah Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Danang Parikesit menilai ada dua isu penting sukses nya implementasi airport railink, pertama awareness tentang perbedaan air-rail link dengan kereta komuter, dan kedua, aksesibilitas, baik station accessibility maupun access/egress dari dan ke stasiun Sudirman baru atau Manggarai nantinya.

“ Pak Jokowi sebenarnya bisa jadi Ambasador untuk Railink SHIA (Soekarno-Hatta International.Airport). Presiden/Wapres dan menteri2-menteri maupun direksi BUMN kalau ke bandara baiknya pakai KA,” kata dia.

Yang kedua lebih teknis soal aksesibilitas. Target yang ditetapkan pemerintah untuk angkutan bandara cukup ambisius jadi saya kira harus lebih modest, tapi dengan skema finansial yang lebih solid. Pemberian nama BNI City harusnya memberi tambahan pendapatan iklan dari BNI sekurangnya 300ribu USD per tahun ke Railink misalnya. Hal lain yang bisa dilakukan adalah sinergi Railink dan DAMRI dengan memberikan layanan connecting travel dari/ke Sudirman baru dengan tambahan 10rb. 80rb ke destinasi2 utama di Jakarta. Atau 110rb door-to-door service ke semua lokasi di Jakarta.

Penulis: Hendra Gunawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help