Ini Penyebab Langkanya Gas Elpiji 3 Kg

Gas yang disubsidi oleh pemerintah untuk masyarakat tidak mampu itu disuntikkan ke gas bertabung 12 kg dan 40 kg.

Ini Penyebab Langkanya Gas Elpiji 3 Kg
Warta Kota/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Petugas tengah meata gas elpiji 3kg yang kosong di salah satu toko Kawasann Mampang, Jakarta Selatan, Rabu (6/12/2017). Sejumlah warga Jakarta megeluh akibat langkanya gas elpiji 3 kg disejumlah agen-agen dann warung eceran. Warta Kota/Angga Bhagya Nugraha 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Praktik gas oplosan membuat kelangkaan gas melon berukuran 3 kilogram (kg). Gas yang disubsidi oleh pemerintah untuk masyarakat tidak mampu itu disuntikkan ke gas bertabung 12 kg dan 40 kg.

Akibatnya, pasokan gas melon berkurang, dan berujung mengerek harga gas 3 kg.

"Kelangkaan gas 3 kg menimbulkan keresahan masyarakat," ujar Kepala Divisi Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto, Jumat (12/1).

Baca: Ditawari Bawakan Jingle Gus Ipul-Puti Soekarno, Via Vallen Mengaku Ogah Ikutan Politik

Setyo bilang laporan dari pertamina mengenai penyaluran gas 3 kg berjalan normal. Hal itu membuat Setyo menilai ada gangguan pada rantai distribusi.

Polisi telah mengamankan 4.200 tabung gas melon yang dihunakan untuk mengisi tabung gas yang lebih besar. Selain itu juga terdapat 396 tabung gas 12 kg.

Pelaku menjual gas tersebut dengan harga lebih murah dari harga pasaran. Akibat modal yang lebih rendah membuat pelaku dapat meraup keuntungan lebih hingga Rp 600 juta per bulan.

"Sehari bisa produksi 1.000 tabung, keuntungannya sekitar Rp 600 juta per bulan," terangnya.

Selain berbuat kecurangan dalam produksi, pelaku juga dinilaindapat merugikan konsumen. Setyo bilang timbangan gas yang diproduksi bisa kurang dan keamanannya lun tidak sesuai standar.

Pelaku dijerat dengan undang-undang (UU) perlindungan konsumen serta UU minyak dan gas. Akibatnya pelaku diancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara dan denda hingga Rp 2 miliar.

Berita Ini Sudah Dipublikasikan di KONTAN, dengan judul: Gas oplosan sebabkan elpiji 3 kg langka

Editor: Sanusi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help