Tahun 2018, IHSG Diprediksi Tembus Level 7.000

Pada penutupan perdagangan bursa saham Indonesia akhir tahun lalu berhasil mencatatkan rekor baru dengan bertengger di level 6.355,65.

Tahun 2018, IHSG Diprediksi Tembus Level 7.000
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan beraktivitas di dekat tayangan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (3/7/2017). 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Syahrizal Sidik 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Bahana Sekuritas memprediksi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tahun 2018 bisa menyentuh level 7.000 poin. Hal tersebut lantaran melhat moncernya kinerja BEI di pengujung tahun 2017 lalu. 

Pada penutupan perdagangan bursa saham Indonesia akhir tahun 2017 lalu berhasil mencatatkan rekor baru dengan bertengger di level 6.355,65.

Perbaikan makro ekonomi seperti nilai tukar rupiah yang relatif stabil, diiringi dengan penurunan suku bunga acuan serta fiskal yang terjaga menjadi salah satu faktor yang membuat indeks melaju cukup kencang menjelang akhir 2017. 

Memasuki tahun 2018, Kepala Riset dan Strategi Bahana Sekuritas Andri Ngaserin memaparkan pasar saham Indonesia akan mencari keseimbangan stabilitas makroekonomi yang terjaga. 

“Bahana memperkirakan indeks akan berada pada kisaran 7.000 sepanjang 2018,”  kata Andri dalam keterangan resminya, Minggu (14/1/2018).  

 Andri menegaskan pentingnya mewaspadai beberapa faktor risiko di sepanjang 2018 seperti kenaikan harga minyak dunia, perhelatan pilkada serentak di dalam negeri serta kebijakan investasi Pemerintah China. 

Baca: Ini Sanksi yang akan Dijatuhkan BI ke Siapa Saja yang Gunakan Bitcoin untuk Alat Transaksi

Baca: Prediksi BI: Inflasi Bulan Januari 0,6 Persen

Tahun ini, pemerintah China mengambil kebijakan untuk mengurangi investasi langsungnya di luar negeri dalam waktu dekat termasuk di ASEAN. Hal ini bisa berakibat pada perlambatan ekonomi domestik dan investasi.

Faktor lainnya yang perlu diwaspadai adalah tren kenaikan harga minyak dunia yang saat ini di kisaran 66 dolar AS per barel, lebih tinggi dari asumsi harga minyak dunia di APBN 2018 sebesar 48 dolar AS per barel.

Hal ini akan berpengaruh terhadap defisit transaksi berjalan bila tidak ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi atau bakal menimbulkan inflasi bila harga BBM subsidi naik.

Penulis: Syahrizal Sidik
Editor: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help