Suzuki Melenggang di Bisnis Mesin Tempel

"Kita jualan OBM tak seperti jualan biasa. Konsep jualan kita unit CBU (diimpor utuh) berdasarkan konsultatif basis, bukan transaction basis."

Suzuki Melenggang di Bisnis Mesin Tempel
TRIBUNNEWS/CHOIRUL ARIFIN
Leo Widjaya, Assistant to Department Head Suzuki OBM (kanan) bersama Kensuke Ikeda, Outboard Department, Department Head PT Suzuki Indomobil Sales saat pengenalan mesin OBM Suzuki DF300AP di GIIAS 2017, Selasa (15/8/2017). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) makin serius menggarap bisnis mesin tempel untuk perahu dan kapal atau outboard motor (OBM) di market Indonesia.

Kondisi geografis Indonesia yang negara kepulauan dan memiliki kekayaan laut sangat besar serta potensi wisata perairan yang kuat menjanjikan pasar yang bagus bagi produk OBM Suzuki.

Leo Wijaya, Assistant to Dept Head of Outboard Motor PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) mengatakan, potensi pasar OBM di Indonesia amat bergantung pada kemampuan setiap brand OBM memacu penjualannya karena memang peluang pasarnya, khususnya di Indonesia Timur sangat besar. 

"Kita jualan OBM tak seperti jualan biasa. Konsep jualan kita unit CBU (diimpor utuh) berdasarkan konsultatif basis, bukan transaction basis. Apa kebutuhan pelanggan kiita siapkan modelnya," ungkap Leo Wijaya dalam perbincangan dengan Tribunnews.com di sela acara media gathering Suzuki di Jakarta, Rabu (7/3/2018).

Leo mengatakan, kompetisi di bisnis OBM cukup kuat. Namun, sebagian merk OBM yang masuk market Indonesia dipasarkan oleh importir umum.

"Kita bukan importir umum. Kita masuk sebagai agen pemegang merk. Kita siapkan juga suku cadang Suzuki Genuine Parts dan masuk ke mereka (konsumen) sebagai APM dengan mengeedukasi dan memberikan komitmen jangka panjang kepada user," papar Leo. 

Market Indonesia Timur

Indonesia Timur, menurut Leo merupakan pasar yang lebih menjanjikan ketimbang Indonesia Barat untuk produk-produk mesin OBM Suzuki di Indonesia. Ini antara lain karena, pasar terbesar OBM Suzuki adalah untuk pengguna akhir kalangan nelayan.

Dan, di Indonesia Timur, potensi ikan bernilai ekonomi tinggi lebih besar ketimbang di Indonesia Barat. 

Baca: Bos Amazon Jadi Orang Terkaya Dunia Versi Forbes

Halaman
12
Penulis: Choirul Arifin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com © 2018
About Us
Help